Berita

4 Bulan Dibiarkan Tergenang, Warga Bona Lumban Pertanyakan Keseriusan Bupati

15
×

4 Bulan Dibiarkan Tergenang, Warga Bona Lumban Pertanyakan Keseriusan Bupati

Sebarkan artikel ini
4 Bulan Dibiarkan Tergenang, Warga Bona Lumban Pertanyakan Keseriusan Bupati

Tapteng
Tapanuli Tengah –Kabarnusa24.com) Kesabaran warga Desa Bona Lumban, Kecamatan Tukka, tampaknya sudah di ambang batas. Selama kurang lebih empat bulan terakhir, mereka dipaksa hidup dalam kondisi rumah yang tergenang air setiap kali hujan turun, tanpa solusi nyata dari pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Keluhan demi keluhan telah disampaikan, namun hingga kini belum terlihat langkah konkret untuk membangun jalur air yang memadai. Warga menilai, pemerintah daerah terkesan lamban dan tidak serius menangani persoalan yang mereka hadapi setiap hari.

Rabu, 18 Maret 2026, kondisi tersebut masih terus berlangsung tanpa perubahan berarti. Air tetap masuk ke rumah warga setiap kali hujan turun, seolah tidak ada penanganan darurat maupun solusi jangka panjang dari pihak terkait.4 Bulan Dibiarkan Tergenang, Warga Bona Lumban Pertanyakan Keseriusan Bupati“Setiap hujan turun, rumah kami pasti tergenang. Ini bukan sekali dua kali, tapi sudah berbulan-bulan. Kami seperti dibiarkan,” ujar Susan Simatupang dengan nada kecewa.

Ironisnya, di tengah penderitaan warga, kepala daerah disebut kerap datang ke lokasi. Namun, kunjungan tersebut dinilai hanya sebatas melihat kondisi dan berfoto, tanpa diikuti penyelesaian yang jelas.

“Bupati datang, lihat-lihat, foto-foto, tapi setelah itu tidak ada perubahan. Kami butuh tindakan, bukan sekadar kunjungan,” tegas warga.

Warga pun mulai mempertanyakan komitmen dan keberpihakan pemerintah daerah terhadap masyarakat kecil yang terdampak langsung.

Persoalan semakin rumit ketika warga diarahkan untuk mengungsi ke lokasi yang berjarak sekitar dua kilometer. Tanpa kendaraan, langkah tersebut dinilai tidak realistis dan justru menambah beban warga.

“Disuruh mengungsi, tapi jaraknya jauh. Kami tidak punya kendaraan. Anak-anak kami sekolah, kami harus cari makan. Apa pemerintah memikirkan itu?” keluhnya.

Di sisi lain, bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang diharapkan juga belum kunjung diterima, sementara daerah lain sudah mendapatkan pencairan. Hal ini menimbulkan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat.

Warga juga menyoroti hasil pendataan kerusakan rumah yang dinilai tidak sesuai fakta di lapangan. Banyak rumah disebut hanya mengalami kerusakan ringan, padahal kondisi sebenarnya jauh lebih parah akibat genangan air yang terus berulang.

“Dibilang cuma 20 persen rusak. Coba datang dan lihat langsung. Ini bukan kerusakan ringan,” ujar warga dengan nada kesal.

Situasi ini memicu kekecewaan mendalam. Warga merasa suara mereka tidak didengar, sementara kondisi terus memburuk setiap hari.

“Kalau kami diam, kami menderita. Kalau kami bicara, kami takut disalahkan. Lalu kami harus bagaimana?” ungkapnya.

Kini, warga hanya bisa berharap ada perhatian serius dan langkah nyata dari pemerintah daerah. Mereka menuntut solusi konkret, bukan sekadar janji atau kunjungan seremonial.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah akan semakin menurun.

“Jangan tunggu sampai semuanya rusak total. Kami sudah cukup menderita. Kami butuh solusi sekarang,” tutup warga.

(Hasanuddingulo)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin