Berita

Publik Tapteng Heboh, Video Dugaan Bongkar Anggaran Pemkab Tuai Reaksi Keras Warganet

51
×

Publik Tapteng Heboh, Video Dugaan Bongkar Anggaran Pemkab Tuai Reaksi Keras Warganet

Sebarkan artikel ini
Publik Tapteng Heboh, Video Dugaan Bongkar Anggaran Pemkab Tuai Reaksi Keras Warganet

Tapanuli Tengah –Kabarnusa24.com)Media sosial kembali diguncang dengan beredarnya sebuah video yang diduga membongkar berbagai persoalan anggaran serta kebobrokan birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Video yang viral pada Kamis, 14 Mei 2026, itu langsung menyulut kemarahan publik dan menuai ribuan komentar pedas dari masyarakat.

 

Dalam video yang beredar luas di Facebook tersebut, terdengar seorang pria dengan lantang mengungkap dugaan adanya upaya pemerintah daerah mengajukan Peraturan Kepala Daerah (Perkada) yang dinilai sebagai alat untuk membungkam suara wakil rakyat agar tidak ikut mengawasi pengelolaan anggaran daerah.

 

“Tujuan pemerintah mengajukan perkada agar membungkam wakil rakyat supaya tidak ikut campur terkait anggaran yang dikelola bupati,” ucap suara dalam video tersebut.

 

Pernyataan itu sontak memicu gelombang kritik dari masyarakat. Pasalnya, publik menilai kebijakan yang seharusnya berpihak kepada rakyat justru diduga digunakan untuk mempersempit ruang pengawasan terhadap penggunaan uang negara.Publik Tapteng Heboh, Video Dugaan Bongkar Anggaran Pemkab Tuai Reaksi Keras WarganetTidak hanya itu, video tersebut juga menyinggung besarnya anggaran makan dan minum Bupati Tapanuli Tengah yang disebut mencapai Rp827.742.000. Angka fantastis itu membuat masyarakat semakin geram, terlebih kondisi warga pasca bencana di sejumlah wilayah Tapteng hingga kini masih memprihatinkan.

 

“Itu hanya makan dan minum saja,” ucap narator video dengan nada kesal.

Di tengah rakyat yang masih kesulitan mendapatkan bantuan layak, dugaan anggaran fantastis untuk kebutuhan pejabat dianggap sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap penderitaan masyarakat kecil.

 

Video tersebut juga menyoroti dugaan carut-marut penanganan bencana, bantuan yang disebut tidak tepat sasaran, hingga berbagai persoalan lain yang dinilai memperlihatkan lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap rakyat.

 

Kolom komentar Facebook pun langsung dipenuhi luapan emosi masyarakat. Banyak warga menilai kondisi pemerintahan saat ini semakin jauh dari harapan rakyat.

Akun Bahri Lubis menuliskan komentar singkat namun tajam.

“Belum dua tahun sudah begini,” tulisnya.

 

Sementara akun Firman Lubis menilai sejak awal kepemimpinan sudah terlihat arah kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

“Dari awal sudah terlihat niat yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Perkada ditujukan untuk membungkam suara wakil rakyat,” tulisnya.

 

Komentar paling menyita perhatian datang dari warganet lain yang secara terang-terangan melontarkan kalimat keras di kolom komentar.

“Maling teriak maling,” tulis akun tersebut.

 

Kalimat itu kini ramai dikutip dan dibagikan ulang oleh pengguna media sosial lainnya sebagai bentuk sindiran tajam terhadap situasi yang sedang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah.

 

Akun lain bernama Rafi Faris juga ikut meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi daerah yang dinilai tidak berpihak kepada korban bencana.

“Enak-enak dia ya, sementara masyarakat korban bencana masih banyak yang menderita,” tulisnya.

 

Viralnya video tersebut semakin memperlihatkan tingginya kekecewaan masyarakat terhadap kondisi pemerintahan daerah. Banyak warga meminta aparat penegak hukum, lembaga pengawas, hingga pihak terkait segera turun tangan untuk menelusuri berbagai dugaan persoalan anggaran yang kini menjadi sorotan publik.

 

Masyarakat menilai penggunaan anggaran daerah harus dilakukan secara terbuka dan transparan, apalagi di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sedang sulit. Jangan sampai uang rakyat justru habis untuk kepentingan elite sementara masyarakat kecil terus menanggung penderitaan.

 

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terkait video viral maupun berbagai tudingan yang berkembang luas di media sosial tersebut, tutupnya.

(Hasanuddingulo)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin