JAKARTA,– Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Sarana/Prasarana Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M. Azis Syamsuddin mengungkapkan banyak pulau di Indonesia memiliki lahan-lahan yang luas namun lahan-lahan tersebut belum dimanfaatkan untuk sektor pertanian dan usaha lainnya sehingga segala kebutuhan yang ada di sana dipasok dari Jawa.
“Di sini pentingnya untuk mendatangkan transmigran”, ujarnya.
Ungkapan demikian disampaikan Azis Syamsuddin saat beraudensi dengan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di Gedung Makarti, Kantor Kementerian Transmigrasi (Kementrans), Kalibata, Jakarta, pada Senin (27/7/2026).
Viva Yoga senang mendapat dukungan pentingnya transmigrasi dari salah satu petinggi Kadin. Meski demikian dikatakan pola Transmigrasi saat ini berbeda dengan masa Orde Baru. Pada masa lalu, transmigrasi bersifat sentralistik, top down. “Program transmigrasi dulu ditetapkan oleh pemerintah pusat secara langsung”, ujarnya.
Saat ini program transmigrasi dilaksanakan secara desentralisasi, bottom up. “Ada transmigrasi bila ada permintaah dari daerah yang membutuhkan”, ucapnya.
Meski bersifat bottom up atau desentralisasi namun permintaan adanya transmigrasi masih tinggi. Disebut ada 61 proposal dari para bupati yang ingin ada kawasan baru transmigrasi.
“Meski ada daerah yang sudah memiliki kawasan transmigrasi namun mereka tetap ingin di daerahnya ada kawasan baru”, paparnya.
Tingginya permintaan transmigran karena program yang sudah dilakukan secara resmi oleh Presiden Soekarno ini terbukti mampu menciptakan kawasan pertumbuhan baru ekonomi di berbagai pulau di luar Jawa.
Di Indonesia ada 154 kawasan transmigrasi dalam prioritas nasional. Menurut Viva Yoga masing-masing kawasan memiliki potensi unggulan berbedajjhhhhh BNN. Disebut di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, potensi unggulannya kelapa sawit. Di Banyuasin, Sumatera Selatan, potensi unggulannya padi.
“Di kawasan Sulawesi Tengah, berkembang kakao, kopi, pala, dan durian”, ujarnya. Tak hanya di sektor darat, di kawasan pesisir, potensi ikan yang juga sangat melimpah.

Potensi unggulan yang ada sudah dilakukan produksi massal, baik skala usaha kecil, menengah, hingga ekspor. “Dari kawasan transmigrasi Sulawesi Tengah, ada transmigran yang menjalankan produk kopi dan coklat rumahan yang produknya bisa dibanggakan”, ujarnya.
“Produk rumahan itu kerap dijadikan oleh-oleh”, tambahnya. Potensi unggulan juga sudah diekspor ke China, Amerika Serikat, dan negara lainnya.
“Bapak Menteri Transmigrasi secara resmi telah mengekspor durian dari kawasan di Sulawesi Tengah ke China”, ungkapnya. Nilainya menurut Viva Yoga sangat tinggi, ekspor 459 ton nilai Rp42,5 miliar.
Dirinya juga menyatakan telah memfasilitasi kekspor rajungan ke Amerika Serikat dengan bobot sekitar 16 ton dengan nilai ekonomi Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.
“Rajungan tersebut diambil dari kawasan transmigrasi yang ada di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat”, ujarnya.
Disampaikan kepada delegasi Kadin, banyak potensi unggulan lain yang bisa diekspor namun perlu ada sentuhan investasi. “Perlu ada investasi agar komoditas yang ada tidak stagnan”, ucapnya.
Untuk itu Viva Yoga mengajak Kadin melakukan investasi atau bisnis dengan berbagai skala di kawasan transmigrasi. Menurutnya organisasi dagang dan industri ini memiliki jaringan yang sangat luas, dari pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Diungkap Kementrans dalam membangun kawasan transmigrasi tidak bisa sendirian. Selama ini kementerian ini telah melakukan sinergi tidak hanya dengan pemerintah namun juga dengan perusahaan swasta,
“Kementrans telah melakukan sinergi dengan PNM, pengusaha dari China, dan para offtaker”, ungkapnya.
“Sekarang Kadin perlu melakukan hal yang sama untuk ikut mengembangkan kawasan trasnmigrasi”, tambah pria asal Lamonga, Jawa Timur, itu.
(Red)







