Muslimat NU Lumajang Tekankan Makna Barokah, Silaturahmi, dan Keteladanan Rasulullah
LUMAJANG, kabarnusa 24.com Senin,17/8/2026— Pesan tentang keberkahan, keteladanan Rasulullah, dan pentingnya menjaga tradisi keagamaan menjadi sorotan dalam kegiatan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Lumajang. Kegiatan tersebut berlangsung di Omah Rogotrunan dan dihadiri jajaran Muslimat NU serta sejumlah tokoh perempuan NU.
Dalam kesempatan itu, Ketua PC NU Nyai Hofsoh Abdul Halim mengajak para peserta untuk tidak memandang keberkahan semata-mata dari sesuatu yang terlihat secara kasatmata. Menurutnya, barokah merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat diukur, tetapi dapat dirasakan melalui manfaat, ketenteraman, serta kebaikan yang terus mengalir.
Ia menilai keberadaan NU tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan dan keberadaan para ulama, kiai, nyai, serta kegiatan keagamaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
“Barokah itu tidak kelihatan, tapi bisa kita rasakan,” ujarnya di hadapan peserta.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Keberkahan, kata dia, dapat dimohonkan dalam berbagai hal, mulai dari rezeki, keluarga, tempat tinggal hingga pekerjaan. Rezeki yang diberkahi diharapkan tidak hanya memberi manfaat bagi seseorang, tetapi juga membawa kebaikan bagi keluarga dan keturunannya.
Karena itu, ia mengajak warga NU untuk terus merawat kegiatan keagamaan seperti pengajian, pembacaan selawat, khatmil Quran, istigasah, serta berbagai bentuk silaturahmi.
Menurutnya, tempat yang digunakan untuk kegiatan positif dan ibadah juga diharapkan menjadi ruang yang membawa keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Keteladanan Rasulullah
Pesan keagamaan dalam kegiatan tersebut juga bertepatan dengan bulan Rabiul Awal yang dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Para peserta diajak tidak hanya meneladani Rasulullah dari sisi lahiriah, tetapi juga dari sisi batin, terutama akhlak, kecintaan terhadap Al-Quran, selawat, serta kepedulian terhadap sesama.
“Semoga kita bisa meneladani beliau secara lahir dan batin,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar lebih berhati-hati menghadapi berbagai godaan di era digital. Kemudahan mengakses informasi melalui telepon seluler, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang dapat membawa dampak negatif.
Doa keselamatan dan perlindungan dari berbagai musibah pun menjadi bagian dari pesan yang disampaikan kepada jamaah.
Omah Rogotrunan Dibuka untuk Kegiatan Positif
Sementara itu, Munfarid selaku pemilik Omah Rogotrunan menyambut baik kegiatan Muslimat NU Kabupaten Lumajang yang digelar di tempat tersebut.
Ia menyebut kehadiran Muslimat NU justru menjadi keberkahan tersendiri bagi Omah Rogotrunan. Sebab, rumah yang selama ini relatif sepi kembali dipenuhi kegiatan keagamaan yang dinilai membawa manfaat bagi masyarakat.
“Kalau acara Muslimat ini membahagiakan bagi kami. Isinya ada selawat, khatmil Quran, istigasah. Ini yang menjadikan keberkahan tersendiri untuk Omah Rogotrunan,” katanya.
Munfarid bahkan membuka kesempatan bagi Muslimat NU maupun organisasi pendidikan dan anak cabang untuk menggunakan tempat tersebut dalam berbagai kegiatan positif.
Menurut dia, selama kegiatan yang dilaksanakan bersifat keagamaan, pendidikan, silaturahmi, dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, pihaknya dengan senang hati mempersilakan Omah Rogotrunan dimanfaatkan.
“Kita sangat terbuka dan sangat menyambut dengan bahagia,” ujarnya.
Momentum Memperkuat Silaturahmi
Bagi Munfarid, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk kembali bersilaturahmi dengan keluarga besar Muslimat NU setelah cukup lama tidak mengikuti kegiatan bersama.
Ia sempat mengisahkan dirinya pernah berencana menghadiri kegiatan Muslimat sebelumnya, tetapi batal karena harus kembali setelah mendapat kabar anaknya mengalami kecelakaan saat mengikuti turnamen sepak bola.
Kali ini, ia sengaja menyempatkan diri hadir dan mengikuti kegiatan Muslimat sekaligus melakukan silaturahmi dengan sejumlah pihak.
Ia juga mengakui sudah cukup lama tidak mengikuti kegiatan Muslimat hingga sempat lupa sebagian Mars Muslimat. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak mengurangi ikatan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama dan Muslimat NU.
“Yang penting hati kita tetap keluarga besar Nahdlatul Ulama, tetap keluarga besar Muslimat NU,” ujarnya.
Ia berharap Muslimat NU Kabupaten Lumajang ke depan semakin berkembang dan konsisten menggelar kegiatan keagamaan serta sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menghentikan kegiatan yang bertujuan mempererat silaturahmi dan memberikan kemaslahatan.
“Rezeki itu milik Allah SWT. Kita jangan merasa tidak punya kemampuan selama kegiatan itu menjadi kegiatan silaturahmi dan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Pesan tentang barokah, keteladanan Rasulullah, dan pentingnya menjaga silaturahmi menjadi benang merah pertemuan tersebut—sekaligus menegaskan bahwa kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan kepedulian di tengah masyarakat.(D.S)







