Daerah

Muslimat NU Perkuat Administrasi Organisasi, Lailatul Qodriyah: Fondasi Utama agar Roda Organisasi Berjalan

9
×

Muslimat NU Perkuat Administrasi Organisasi, Lailatul Qodriyah: Fondasi Utama agar Roda Organisasi Berjalan

Sebarkan artikel ini
Muslimat NU Perkuat Administrasi Organisasi, Lailatul Qodriyah: Fondasi Utama agar Roda Organisasi Berjalan

Muslimat NU Perkuat Administrasi Organisasi, Lailatul Qodriyah: Fondasi Utama agar Roda Organisasi Berjalan

LUMAJANG, kabar nusa24.Com— Penguatan administrasi menjadi perhatian penting dalam menjaga profesionalisme dan keberlangsungan organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Administrasi yang tertib dinilai bukan sekadar urusan pencatatan, melainkan fondasi utama agar roda organisasi berjalan efektif hingga tingkat ranting.Acara ini berlangsung di Cafe Alka,Jalan Srikaya, Sukodono.

 

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Lailatul Qodriyah, M.Pd., mengatakan pembinaan administrasi yang dilakukan kepada jajaran Muslimat NU merupakan bagian dari upaya menyegarkan kembali pemahaman pengurus terhadap pedoman organisasi, termasuk AD/ART serta ketentuan administrasi yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

 

“Urgensi administrasi adalah bagaimana organisasi ini bisa berjalan dengan baik. Semua dimulai dari administrasi. Organisasi yang baik tentu administrasinya juga harus baik,” ujar Lailatul.

 

Menurut dia, pembinaan tersebut bukan berarti selama ini pengurus Muslimat NU tidak menjalankan administrasi. Sebaliknya, administrasi telah dilakukan dari tahun ke tahun. Namun, perubahan dan penambahan ketentuan organisasi dalam setiap kongres membuat pengurus perlu mendapatkan penyegaran secara berkala.

 

“Pengurus dari tahun ke tahun pasti sudah memiliki administrasi. Tetapi, setiap kongres ada perubahan dan penambahan. Pengurus di berbagai tingkatan, baik ranting maupun PAC, juga mengalami pergantian. Karena itu, perlu dilakukan refresh,” katanya.

 

Pembinaan tersebut, lanjut Lailatul, juga menjadi ruang bagi pengurus baru untuk memahami kembali pedoman organisasi. Kesibukan masing-masing pengurus, kata dia, terkadang membuat proses belajar mengenai AD/ART dan tata kelola organisasi tidak berjalan optimal apabila tidak dilakukan secara bersama-sama.

 

“Pengurus baru mungkin belum memahami secara menyeluruh pedoman organisasi atau AD/ART. Dengan pembinaan seperti ini, mereka bisa belajar bersama dan mendapatkan arahan dari pengurus di atasnya,” ujarnya.

 

Selain menyeragamkan kembali administrasi yang telah berjalan, pembinaan juga dimanfaatkan untuk menyosialisasikan sejumlah ketentuan baru sebagai hasil kongres terakhir.

 

“Jadi ada dua hal. Pertama, menyeragamkan kembali administrasi yang sudah ada. Kedua, mensosialisasikan tambahan-tambahan atau perubahan baru hasil kongres yang perlu diterapkan dalam administrasi organisasi,” kata Lailatul.

 

Ia menegaskan, keberhasilan pembinaan tidak akan diukur hanya dari kegiatan seremonial yang berlangsung beberapa jam. Evaluasi akan dilakukan secara berkelanjutan ketika pengurus turun ke bawah atau melakukan “turba” ke berbagai tingkatan organisasi.

 

Dalam kegiatan tersebut, administrasi masing-masing pengurus akan dilihat, diperiksa, dan dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana materi pembinaan benar-benar diterapkan.

 

“Pembinaan hari ini sifatnya seremonial. Tetapi pembinaan lanjutannya dilakukan ketika kita turba. Di sana kita lihat, periksa, dan evaluasi administrasinya. Dari situ akan terlihat apakah pembinaan yang hanya beberapa jam ini benar-benar terlaksana atau tidak,” tuturnya.

 

Menurut Lailatul, hasil pembinaan juga dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi dan presentasi administrasi pada momentum “Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU”. Bahkan, evaluasi tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk perlombaan administrasi antarstruktur organisasi.

 

Ia mengibaratkan mekanisme tersebut seperti akreditasi dalam dunia pendidikan. Tidak hanya melihat apakah pengurus memahami materi, tetapi juga memastikan pemahaman tersebut benar-benar diterapkan dalam tata kelola organisasi.

 

“Seperti di pendidikan ada akreditasi. Di sini juga bisa dilihat apakah pengurus paham atau tidak, kemudian dilaksanakan atau tidak. Kedisiplinan dalam menjalankan administrasi itu yang nantinya bisa terlihat,” katanya.

 

Terbuka untuk Pengembangan Karier Kader

 

Selain administrasi, Lailatul menilai peluang pengembangan karier kader Muslimat NU juga terbuka luas. Tidak menutup kemungkinan kader yang berdomisili di Lumajang dapat dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan di tingkat wilayah maupun pusat.

 

Menurut dia, tidak ada pembatasan bagi kader yang memiliki kapasitas dan keinginan untuk berkiprah lebih luas dalam struktur organisasi.

 

“Bukan tidak mungkin kader Muslimat yang berdomisili di Lumajang menjadi pengurus PW di Surabaya atau bahkan pengurus PP di Jakarta. Organisasi terbuka seluas-luasnya bagi mereka yang ingin berkarier,” ujarnya.

 

Namun, pilihan seorang kader untuk melanjutkan kiprah di tingkat yang lebih tinggi juga bergantung pada kondisi dan pertimbangan masing-masing individu, termasuk domisili dan kesibukan.

 

“Karier pengurus itu sangat bergantung pada person-nya. Dengan segala keterbatasan, mungkin ada yang lebih memilih berada dekat dengan kotanya. Tetapi kesempatan itu tetap terbuka,” katanya.

 

Karena itu, pembekalan terhadap kader menjadi bagian penting agar mereka memiliki kesiapan apabila suatu saat mendapatkan amanah di tingkat organisasi yang lebih tinggi.

 

“Kita bekali mereka. Kalau ada yang ingin berkarier sampai pengurus wilayah atau pengurus pusat, tidak ada yang menutup kemungkinan untuk itu,” kata Lailatul.

 

Ia berharap pembinaan administrasi tersebut dapat mendorong seluruh jajaran Muslimat NU, terutama di tingkat ranting, semakin tertib dalam mengelola organisasi.

 

“Harapan saya, dengan pembinaan administrasi ini semua ranting bisa teradministrasi dengan baik, anggota-anggotanya terdata dengan baik, dan seluruh SOP organisasi dapat dijalankan. Dengan begitu, roda organisasi juga berjalan dengan baik,” ujarnya.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin