Perempuan Berdaya Secara Ekonomi Jadi Benteng Cegah Kekerasan, Fatayat NU Lumajang Perkuat Pengurus
LUMAJANG,kabarnusa24.Com— Pemberdayaan ekonomi perempuan dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk memperkuat posisi perempuan sekaligus mencegah berbagai bentuk kekerasan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan peningkatan kapasitas pengurus Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (PC Fatayat NU) Kabupaten Lumajang, di Hotel Prima, Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Lumajang, Nur Afifatul Golimah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi momentum keagamaan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di internal organisasi.
“Pertama, tentu kita bersyukur karena kita lahir dalam keadaan Islam dan iman berkat lahirnya Nabi Agung Muhammad SAW. Berkat beliau, hari ini kita bisa hidup penuh dengan iman, bisa berkhidmat di Fatayat dan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Nur Afifatul.
Menurut dia, rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW perlu diwujudkan dalam bentuk pengabdian yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi kali ini dikemas dengan peningkatan kapasitas pengurus. Tujuannya agar para pengurus tidak kehilangan energi dalam menjalankan roda organisasi.
“Kami ingin pengurus Fatayat lebih segar dan lebih semangat untuk mengabdi di Fatayat,” katanya.
Kapasitas Pengurus Menentukan Dampak Organisasi
Nur Afifatul menegaskan, penguatan kapasitas pengurus merupakan bagian penting untuk memastikan program Fatayat benar-benar memberi dampak bagi masyarakat.
Menurutnya, organisasi yang memiliki pengurus aktif dan berkualitas akan lebih mampu menjalankan program secara konsisten.
“Kalau pengurusnya semangat, pengurusnya lebih berkualitas, kami yakin pengabdiannya juga akan lebih besar. Dampaknya kepada masyarakat sekitar juga akan lebih besar,” ujarnya.
Ia berharap wawasan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi para peserta, tetapi diteruskan melalui program-program Fatayat di tingkat masyarakat.
Fatayat Soroti Pentingnya Kemandirian Ekonomi Perempuan
Dalam keterangannya, Nur Afifatul juga menyinggung keterlibatan Fatayat dalam rangkaian agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Salah satu agenda yang diikuti Fatayat adalah halaqah dan dialog perempuan interaktif yang membahas pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Selain itu, terdapat agenda bedah film “Ibadah dan Cinta”, yang merupakan kolaborasi antara sutradara dan Pimpinan Pusat Fatayat NU.
Menurut Nur Afifatul, kegiatan tersebut memberikan perspektif penting mengenai posisi dan peran perempuan dalam kehidupan sosial.
Ia menilai perempuan tidak cukup hanya dibekali dengan iman dan ketakwaan. Perempuan juga perlu memahami prinsip kesetaraan serta memiliki kemampuan untuk berdiri secara mandiri.
“Perempuan itu tidak hanya cukup dibekali dengan iman dan ketakwaan saja, tetapi juga harus dibekali prinsip-prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan,” katanya.
Namun, ia menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu aspek paling penting.
“Paling utama adalah berdaya secara ekonomi. Kalau secara ekonomi dia sudah kuat, maka secara tidak langsung dia juga sangat kuat untuk terhindar dari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual,” ujar Nur Afifatul.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan, tetapi juga menyangkut penguatan posisi perempuan dalam mengambil keputusan dan menghadapi situasi rentan.
Pengurus Diminta Kembali Bergairah
Dalam agenda peningkatan kapasitas, materi disampaikan oleh Ning Laila, mantan Ketua Fatayat NU Kabupaten Lumajang.
Nur Afifatul menyebut pengalaman Ning Laila selama memimpin Fatayat menjadi bekal penting bagi pengurus saat ini, terutama dalam menghadapi dinamika organisasi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah menjaga agar pengurus tetap aktif dan tidak kehilangan komitmen dalam menjalankan amanah organisasi.
“Beliau punya banyak pengalaman bagaimana mengatasi pengurus yang sudah mulai kendor, pengurus yang sudah mulai tidak aktif,” katanya.
Karena itu, Nur Afifatul berharap seluruh pengurus Fatayat NU di Kabupaten Lumajang dapat kembali memperkuat komitmen organisasi.
“Harapannya, pengurus se-Kabupaten Lumajang bisa aktif, punya integritas yang tinggi terhadap organisasi, menjalankan amanah organisasi dengan baik, dan punya komitmen yang kuat,” ujarnya.
Penguatan kapasitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Fatayat NU Lumajang memperbesar dampak pengabdian. Bagi organisasi, pengurus yang aktif dan memiliki kapasitas bukan hanya dibutuhkan untuk menggerakkan roda organisasi, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan perempuan, anak, dan masyarakat secara lebih luas.(D.S)







