YOGYAKARTA, KABARNUSA24.COM
Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) secara resmi memasuki babak baru. Institusi pendidikan di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) itu kini bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN.
Peresmian perubahan bentuk kelembagaan tersebut ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid. Prosesi berlangsung di Pendopo Sasana Widya Bhumi Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (05/09/26).
Menteri Nusron didampingi Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Ossy Dermawan, Sekretaris Jenderal Dalu Agung Darmawan, Kepala BPSDM Agustyarsyah, serta Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad.
Usai pemukulan gong, acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian. Menteri Nusron kemudian menyerahkan bendera secara simbolis kepada Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN.
Dalam sambutannya, Menteri Nusron menegaskan bahwa Politeknik Agraria STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang fokus pada bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
“Selama puluhan tahun STPN telah melahirkan ribuan tenaga profesional yang mengabdi di Kementerian ATR/BPN maupun berbagai bidang lainnya,” ujar Nusron.
Kontribusi besar para lulusan tersebut, kata dia, menjadi alasan utama penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas pendidikan di kampus tersebut.
Nusron menyebut proses transformasi yang diperjuangkan selama beberapa tahun terakhir kini telah mencapai tahap akhir. Mulai dari perubahan bentuk kelembagaan hingga penataan organisasi.

Selain itu, pengembangan kurikulum berbasis vokasi, pembukaan program studi baru, hingga penyelenggaraan pendidikan telah berjalan dengan baik.
Saat ini, proses pembahasan dan penetapan statuta Politeknik Agraria STPN masih berlangsung di Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Kementerian ATR/BPN menyatakan akan terus mengawal hingga proses itu selesai.
Sejalan dengan transformasi, Politeknik Agraria STPN juga membuka tiga program studi baru pada tahun akademik 2025/2026. Ketiganya telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Ketiga prodi baru itu adalah Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan, serta Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah.
Menurut Nusron, capaian akreditasi tersebut menunjukkan komitmen kampus untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.
“Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” ucapnya.
Ia berharap kurikulum dan sistem pembelajaran terus berkembang secara adaptif. Kampus diharapkan menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi teknologi, dan solusi atas persoalan agraria dan pertanahan.
“Kementerian ATR/BPN akan terus memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas SDM, penyediaan sarana prasarana, serta pembiayaan,” tegas Nusron.
Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad, menyebut perubahan ini merupakan hasil perjuangan panjang seluruh civitas academica.
Peresmian Politeknik Agraria STPN dirangkaikan dengan wisuda perdana 568 Taruna/i. Sri Yanti menyebut momentum ini menguatkan peran kampus dalam mencetak SDM unggul dan profesional di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Dalam kesempatan yang sama juga diberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM, Heri Mulianto, sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN.
Hadir pula sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah DIY, serta Kepala Kantor Wilayah BPN se-Indonesia beserta jajaran.(Rizky Tile)











