Berita

Moment Hari Raya Iedul Fitri, Forum Pondok Pesantren Jawa Barat : Merajut Kembali Ukhuwah Islamiah

2
×

Moment Hari Raya Iedul Fitri, Forum Pondok Pesantren Jawa Barat : Merajut Kembali Ukhuwah Islamiah

Sebarkan artikel ini
Moment Hari Raya Iedul Fitri, Forum Pondok Pesantren Jawa Barat : Merajut Kembali Ukhuwah Islamiah

Bandung- Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Provinsi Jawa Barat, Kh Edi Komarudin Menyampaikan Setelah satu bulan penuh kita berpuasa, segenap kaum Muslimin dan Muslimat di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Kita bersyukur kepada Allah SWT, dengan menggemakan dan mengumandangkan kalimat tauhid, tahmid, dan takbir sembari membesarkan dan mengagungkan-Nya.
Pertanda bahwa kita telah selesai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan serta berhasil melaksanakan perjuangan berat menundukkan hawa nafsu dan godaan setan.

Maka pantaslah kiranya kita menyambut hari kemenangan dengan ucapan, “Taqabalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim”.

Bagi yang berhasil melewati ujian berat selama bulan suci Ramadhan akan memperoleh derajat takwa. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu agar kamu sekalian menjadi orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183).
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan ibadah puasa karena iman dan penuh pengharapan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari-Muslim).
Ketika seseorang diampuni dosa-dosanya, baik dosa kepada Allah SWT maupun kepada sesama (melalui saling memaafkan), makai ia kembali menjadi pribadi suci (fitrah) sebagaimana baru dilahirkan.

Oleh karena itu, hari kemenangan disebut Idul Fitri, yang berarti kembali kepada fitrah. Fitrah bermakna sesuai asal kejadian atau suci.

Salah satu fitrah manusia bahwa selain sebagai ciptaan Allah SWT, manusia juga sebagai makhluk sosial. Manusia dituntut melakukan hubungan yang seimbang antara manusia dengan Allah SWT sebagai Pencipta dalam konteks hablun min-Allah, serta hubungan sesama dalam konteks hablun min-annas.

Allah SWT berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (QS Ali-Imran [3]: 112).

Allah SWT juga memerintahkan manusia untuk menyembah Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama dalam firman-Nya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggabanggakan diri.” (QS an-Nisa [4]: 36).

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin