Pelestarian Batik Khas Lumajang : Motif penuh Khazanah
Lumajang, kabarnusa 24.Com.Kamis,2/10/2025.Batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan warisan budaya yang memiliki sejarah panjang dan sarat makna. Setiap motif batik lahir dari filosofi yang berbeda, mencerminkan kearifan lokal dan identitas bangsa.Pameran batik diadakan di Pendopo Arya Wiraraja ,Jalan Alun-alun Barat Kabupaten Lumajang.
Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji, Mengapresiasi atas karya para perajin batik yang ditampilkan dalam pameran . Ia berharap batik khas Lumajang dapat terus berkembang dan mampu bersaing di kancah nasional,”tandas Dewi
“Batik Lumajang memiliki ciri khas tersendiri, baik dari motif maupun ragam hiasnya. Saat ini memang masih berada di level menengah ke bawah, tapi dengan pembinaan dan pelatihan yang berkelanjutan, kami optimis batik Lumajang bisa semakin dikenal luas,” ungkap Dewi
“Melalui pameran ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap batik khas daerah dapat menjadi identitas budaya sekaligus produk unggulan yang mampu menembus pasar nasional maupun internasional”tambah Dewi
Semester itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Yuli Harisma Wati, mengungkapkan bahwa “Pameran ini merupakan tindak lanjut dari program pelatihan batik yang telah diikuti oleh 20 perajin batik.
Menurutnya, sebagian besar perajin telah menekuni usaha batik sejak tahun 2010 dan terus berupaya mengembangkan kualitas karya mereka,”jelas Yuli
“Perjalanan mereka panjang, tidak main-main. Tapi ke depan, para pengrajin ini harus level up, naik kelas. Karena batik Lumajang masih perlu bersaing dengan batik-batik dari daerah lain,” ungkap Yuli
Yuli menambahkan, dalam pelatihan terakhir para perajin dibekali teknik pewarnaan alam sebagai pengganti pewarna kimia. Menurutnya, pewarna alami lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing batik Lumajang,”jelas Yuli
“Dengan pewarnaan alami, ragam warna yang dihasilkan juga lebih unik. Tema-tema yang diangkat kali ini pun khas Lumajang, seperti motif Jarang Kencak, Pisang Agung, dan Topeng Kaliwungu,” tandas Yuli (D.S)







