Kabupaten Tapanuli Tengah-Kabarnusa24.co) kembali diguncang bencana besar. Hujan deras tanpa henti sejak Senin malam membuat debit air di sejumlah sungai melonjak dan memicu banjir di banyak wilayah pemukiman. Kondisi semakin genting setelah volume air di Bendungan PLTA Sipan Sihaporas, Kecamatan Sarudik, naik drastis hingga pihak pengelola membunyikan sirene peringatan lima kali pada pukul 09.15 WIB.Selasa, 25 November 2025
Menurut pihak PLTA, sirene itu menandakan bahwa bendungan memasuki status siaga tinggi dan pintu air (spillway) harus dibuka untuk mengurangi tekanan. Pembukaan ini berpotensi menambah deras aliran sungai secara tiba-tiba, sehingga warga di hilir diminta menjauh dari bantaran sungai dan tetap bersiaga.
Warga Panik, Banyak yang Terjebak di Rumah
Sejak dini hari, banjir mulai memasuki rumah warga dengan ketinggian antara 30 cm hingga setinggi pinggang orang dewasa. Banyak keluarga tidak sempat mengamankan barang-barang penting karena air naik begitu cepat.
Video dan foto yang beredar menunjukkan warga berteriak meminta pertolongan dari lantai dua rumah hingga atap. Balita, anak-anak, dan lansia terlihat kesulitan dievakuasi.

Seorang warga berinisial MC mengaku keluarganya terjebak sejak pukul 05.00 WIB.
“Air sudah sampai dada orang dewasa. Kami teriak minta tolong, tapi belum ada yang datang. Kami butuh pertolongan segera,” ujar MC.
Ungkapan serupa terus mengalir di media sosial, memperlihatkan kondisi darurat yang dialami warga.
Basarnas dan Pemerintah Daerah Dipertanyakan
Hingga berita ini diterbitkan, beberapa wilayah terdampak dilaporkan belum menerima bantuan evakuasi maupun logistik darurat. Lambatnya respons ini memicu pertanyaan keras dari masyarakat.
“Seolah-olah tidak ada Basarnas di Tapanuli Tengah ini. Kami benar-benar butuh tim penyelamat sekarang,” keluh MC lagi, menegaskan bahwa warga telah menunggu lebih dari dua jam tanpa bantuan.
Warga lain melalui siaran langsung juga mempertanyakan koordinasi pemerintah daerah yang dinilai tidak sigap menghadapi situasi darurat.
BPBD dan Aparat Diminta Bergerak Cepat
Pengamat kebencanaan menilai banjir ini merupakan kombinasi curah hujan ekstrem, tanah yang sudah jenuh air, dan meningkatnya debit bendungan akibat hujan berkepanjangan. Situasi ini membutuhkan koordinasi cepat antara BPBD, Basarnas, aparat kepolisian, dan pemerintah daerah.
Posko pengungsian, layanan kesehatan darurat, serta distribusi logistik mendesak diperlukan untuk mencegah risiko lanjutan seperti hipotermia dan penyakit akibat banjir.
Cuaca Masih Ekstrem
BMKG memperingatkan bahwa wilayah Tapanuli Tengah masih berada dalam kondisi potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Risiko banjir susulan dan longsor masih tinggi hingga malam nanti.
Warga diimbau tetap waspada, mengamankan dokumen penting, mematikan listrik saat air mulai masuk rumah, serta mengikuti instruksi resmi dari BPBD dan aparat,tutupnya.
(Hasanuddingulo)







