DaerahPendidikan

Iuran Nobar Film “3D–4D” di SDN Jatisawit Lor Dipertanyakan, Wali Murid Kecewa Tak Sesuai Realisasi

148
×

Iuran Nobar Film “3D–4D” di SDN Jatisawit Lor Dipertanyakan, Wali Murid Kecewa Tak Sesuai Realisasi

Sebarkan artikel ini
Iuran Nobar Film “3D–4D” di SDN Jatisawit Lor Dipertanyakan, Wali Murid Kecewa Tak Sesuai Realisasi

 

Indramayu, Kabarnusa24.com

Penarikan iuran sebesar Rp10 ribu per siswa untuk kegiatan nonton bareng (nobar) pemutaran film di SDN 1 dan SDN 2 Jatisawit Lor, Kecamatan Jatibarang, kabupaten indramayu menuai tanda tanya besar dari para wali murid. 20/01/2026

Pasalnya, kegiatan yang disebut-sebut sebagai pemutaran film tiga dimensi (3D) dan empat dimensi (4D) itu diduga tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Berdasarkan keterangan wali murid, kegiatan nobar tersebut dilaksanakan di lingkungan sekolah menggunakan LCD proyektor layaknya nonton bareng biasa, bukan di bioskop atau tempat khusus yang menunjang teknologi 3D maupun 4D.

Iuran Nobar Film “3D–4D” di SDN Jatisawit Lor Dipertanyakan, Wali Murid Kecewa Tak Sesuai Realisasi

Salah satu wali murid SDN 1 Jatisawit Lor yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, anaknya diminta membawa uang Rp10 ribu dengan alasan untuk menonton film dan membeli kacamata 3D yang disediakan oleh penyelenggara.

“Memang benar anak saya diberi kacamata karena dapat beli. Tapi kacamata dibawa pulang sekolah, katanya film yang ditonton hanya seperti nonton biasa pakai LCD. Tidak ada efek 3D atau 4D seperti yang dijanjikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, film yang ditonton anaknya merupakan film animasi bertema binatang, salah satunya dinosaurus. Hal tersebut justru menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait muatan edukasi film yang diputar.

“Anak SD ditanya habis nonton film apa, jawabannya film binatang. Itu dinilai tidak jelas unsur pendidikannya. Kami khawatir isinya tidak sesuai untuk anak-anak,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Jatisawit Lor, Nuryani, membenarkan adanya kegiatan pemutaran film dan penarikan iuran Rp10 ribu per siswa. Namun ia mengaku tidak mengetahui secara detail terkait isi film maupun konsep pemutarannya.

“Saya tidak tahu secara rinci isi filmnya apakah edukatif atau tidak,” katanya kepada awak media.

Terkait iuran, Nuryani menyebut tidak ada unsur paksaan dalam penarikan biaya tersebut. “Kami tidak mewajibkan siswa ikut.

Hanya menawarkan bagi yang berminat karena ada iurannya,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala SDN 2 Jatisawit Lor, Arip, tidak berada di kantor saat hendak dikonfirmasi.

Menurut keterangan guru, yang bersangkutan sedang mengikuti rapat.

Menariknya, pihak sekolah mengaku telah mendapatkan izin dari Ketua Gugus, Suarna.

Namun saat dikonfirmasi, Suarna justru membantah pernyataan tersebut.

“Saya tidak pernah dimintai izin. Silakan konfirmasi langsung ke masing-masing kepala sekolah,” tegas Suarna.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, H. Caridin, saat dikonfirmasi terkait pemutaran film di lingkungan sekolah dasar, mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak manajemen atau penyelenggara pemutaran film terkait konsep, teknologi yang digunakan, maupun muatan edukasi film yang dipertontonkan kepada siswa sekolah dasar.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin