Nasional

Menteri LH Jumhur : Komunitas Sungai Jadi Garda Terdepan Gerakan Pulihkan Sungai Indonesia

5
×

Menteri LH Jumhur : Komunitas Sungai Jadi Garda Terdepan Gerakan Pulihkan Sungai Indonesia

Sebarkan artikel ini
Menteri LH Jumhur : Komunitas Sungai Jadi Garda Terdepan Gerakan Pulihkan Sungai Indonesia
Foto : Dok.Ist/Kementerian LH

MOJOKERTO, KABARNUSA24.COM
Dalam rangka menyambut Hari Sungai Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat komitmen perlindungan dan pemulihan sungai melalui kolaborasi lintas sektor pada Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026 di Wana Wisata Sumber Gempong, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Forum ini menjadi momentum konsolidasi para penjaga sungai dari berbagai daerah, untuk memperkuat semangat bersama merawat sungai sebagai sumber kehidupan.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menyampaikan apresiasi atas peran komunitas sungai yang selama ini menjadi penggerak utama dalam menjaga dan memulihkan sungai di berbagai daerah. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi
kekuatan penting dalam memastikan upaya pelestarian dan pemulihan sungai di Indonesia.


Menteri LH Jumhur : Komunitas Sungai Jadi Garda Terdepan Gerakan Pulihkan Sungai Indonesia
Foto : Dok.Ist/Kementerian LH

“Semua peradaban, termasuk di Indonesia itu pasti jejaknya ada disungai. Dan saudara-saudara melakukan itu di tempat ini, di tempatnya masing-masing. Dan siap membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa pun, utamanya dengan pemerintah, dengan akademisi, pengusaha, korporasi, dan sebagainya. Dan terima kasih juga sudah percaya kepada Menteri Lingkungan Hidup. Karena memasukkan Menteri Lingkungan Hidup sebagai ex-officio menjadi Dewan Penasihat bagi komunitas sungai,” kata Menteri Jumhur.

Upaya menjaga sungai menjadi semakin penting di tengah tantangan penurunan kualitas air yang masih dihadapi Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan kualitas air nasional tahun 2025 pada 6.245 lokasi pemantauan yang mencakup 1.926 sungai dan 109 danau atau situ, tercatat sebanyak 234 badan air memenuhi baku mutu, sementara 1.801 badan air mengalami pencemaran.

Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya tantangan pemulihan kualitas sungai, dengan parameter dominan pencemar meliputi Biological Oxygen Demand (BOD), Total Coliform, Fecal Coliform, dan klorin yang berasal dari berbagai aktivitas domestik, peternakan, hingga industri.

Menjawab tantangan pemulihan kualitas sungai tersebut, Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026 yang berlangsung pada 25–27 Juli 2026 mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan” sebagai upaya untuk memperkuat langkah bersama pelestarian sungai. Kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta dari 15 provinsi, 53 kabupaten/kota, serta perwakilan dari 33 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia.

Selama tiga hari pelaksanaan, konferensi menjadi ruang bertukar gagasan, berbagi praktik baik, serta memperkuat jejaring kolaborasi dalam menghadirkan solusi nyata pemulihan sungai Indonesia.

Disamping itu dikatakan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong berbagai upaya pelestarian sungai melalui keterlibatan lintas pihak.

Berbagai program seperti susur sungai dan patroli air terus dilakukan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga sungai.

“Kami sering melakukan susur sungai bersama-sama, tetapi itu belum cukup. Maka sekali lagi kami mengucapkan terima kasih para penggiat, pecinta lingkungan, dan juga kami meng-SK-kan khusus untuk Patroli Air. Tentu ini merupakan wujud dari kerja sama kita, di samping tidak terlepas dari dunia usaha, akademisi, media, sama-sama kita concern untuk bagaimana menyelamatkan kemudian melestarikan sungai kita,” ujar Adhy.

Selain menjadi ruang dialog dan penguatan jejaring, Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026 juga menghasilkan sejumlah komitmen bersama melalui pembacaan Deklarasi Komunitas Sungai, kegiatan penanaman pohon, dialog interaktif, serta penandatanganan Nota Kesepahaman antara KLH/BPLH dan Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan sungai sekaligus mendukung pemanfaatan sungai secara berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan wisata air dan olahraga arung jeram yang tetap memperhatikan fungsi ekologis sungai.

Harapan agar hasil konferensi dapat diwujudkan dalam aksi nyata juga disampaikan Rahmalinda, anggota Komunitas Konservasi Air dari Aceh.

“Mudah-mudahan konferensi ini jangan hanya sekadar seremonial, jadi mudah-mudahan ini menjadi catatan bagi pihak kementerian ataupun juga bagi kami komunitas. Setidaknya kita punya wacana untuk tahun depannya jangan cukup sampai di sini saja”.

Melalui Konferensi Sungai Se-Indonesia 2026, KLH/BPLH menegaskan bahwa sungai bukan hanya bagian dari bentang alam, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.

Kolaborasi multipihak yang semakin menjadi fondasi penting untuk menghadirkan ekosistem sungai yang lestari sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin