Oleh : Sutriachol Haris, L.C.
TANGGERANG,– Spektakuler ketika dimasa sulit sebahagian negara- negara membangun kekuatan demi kekuatan dan ketahaan segala sisi jadi pondasi. Tak aneh ketika kelompok manusia dari bangsa yahudi, nasoro dan oknum muslim menskenariokan akan apa yang di sebut dengan guncangan global yang bernama pandemi Corona, di tahun itu membuat seperti kiamat sugro amat besar lagi dahsyat yang sangat memukul semua lini bukan saja sisi politik perekonomian bagi dunia.
Fokus pada sunami besar yang tak dapat dipungkiri akhir ini ketegangan di Selat Hormuz antara Iran dan Amerika kini krisis tengah menjadi akan malapetaka bagi dunia ketika permainan yang bernama kerusakan itu jadi senda utama bagi negara yang tak hirau akan esklasi segala krisis yang dibuat secara sadar tentunya atau tidak memikir akan resiko global sektoral ego sentral syukur bangsa Indonesia tetap siaga dan berdiri kokoh demi berkelanjutan dan kewajaran akan energi sumber daya mineral dari amannya harga minyak dunia salah satunya.
Karya spektakuler memang di tahun dimana Presiden Indonesia Prabowo Subianto menggagas Program mulia yang bernama MBG. Sejujurnya sejak masa Soekarno hingga kini bahwa anggaran ke program untuk bangsa ini amat bertalian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dan tepat MBG kini hadir saatnya.
Dua puluh tahun lalu telah lewat legislatif merumuskan misal haji agar lebih baik menjadi urusan haji yang di UU kan khusus haji dan umrah kini sudahlah itu hadir bagi pelayanan negara yang prima bagi segenap rakyat dan jemaah.
Di tengah situasi dan kondisi bangsa ini memang tak mudah ketika bravo sang Presiden mengatasi yang bernama efisiensi anggaran negara. Manakala ketika amanah UU memang di sisi lain pendidikan amat prioritas sebagaimana amanah 20 persen dari anggaran APBN.
Kini MBG itu sama mulia dengan yang bernama pendidikan karena untuk menjadi “Al aklu salim fil jismi salim”. Artinya adalah jelmaan cerdasnya akan sebuah negara kudu bangun sisi gizi, kini hal tersebut amat tepat.
Ada analogi sebuah pohon semakin tinggi pohon itu maka semakin tinggi pula angin menggoyang menerpanya. Kini MBG itu sama di Konstitusikan, di kaji, di demontrasikan, di hukum jalankan jadi pro kontra yang sebenarnya itu hal wajar biasa saja yang semestinya semua dapat meng – imani meyakini adalah bahwa MBG yakni program sangat mulia, tentu bagi oposan politik memang sulit tapi bukan sebuah kata mustahil karena RUU MBG ini untuk jadi UU tepat sudah dan amat wajar ketika paripurna UU nantinya ada catatan demi catatan sebagian mungkin.
MBG adalah skenario rasio Prabowo ini bagus, MBG adalah titah yang juga prioritas bagi program langit, MBG adalah perintah dari pemerintah untuk bergizi pilih makan bagi semua manfaat. MBG pula yakni hamparan hidangan hidayah, MBG yaitu salah satu poros yang bernama taufik ilahi.
Kapan dan siapa mengi – mani dan kapan meyakini bagi yang membenci mungkin belum suka program MBGi ini adalah bukan ukuran takaran ketika kontra produktif malah kewajaran. Seperti hukum keagamaan beriman boleh beriman dan boleh tidak maka gagasan dan RUU MBG akan dibuat mencakupi totalitas memanggil getaran siratan langit dan suratan di bumi.
Geopolitik dunia yang tak mudah bagi bangsa dimana pemerintahnya tak boleh ngantuk apalagi microsleep memang, dalam hukum keluarga maka kepala rumah tangganya yang tak boleh lama rebahan.
Presiden yang terus memutar otak demi kata kebermaslahatan bagi bangsa yang utuh dan kedamaian di bumi dan langit karena duduk perkara soal perut meliputi jaringan sel otak yang tak lain dan isinya adalah anugrah perintah samawi. Semoga RUU MBG membawa missi kumplit bagi seluas rahmat tuhan bagi NKRI.
(Red)







