Opini

Gema Syiar Masjid – Masjid di Pulau Jawa Nusantara

11
×

Gema Syiar Masjid – Masjid di Pulau Jawa Nusantara

Sebarkan artikel ini
Gema Syiar Masjid - Masjid di Pulau Jawa Nusantara

Oleh : Sutriachol Haris, L.C.

Kabarnusa24.com,- Pembahasan dan study survei masjid – masjid di tanah Nusantara khususnya di Pulau Jawa. Dari sekian statistik lewat hitungan jari secara manual bahwa masjid – masjid di Pulau Jawa rata – ratanya terdapat hampir enam masjid hingga sepuluh masjid dalam setiap satu Desa di tanah Pulau Jawa.

Dapat dikenali dalam setiap Provinsi di Pulau Jawa Provinsi itu adalah : Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tanah Nusantara ada Banten dan NTB serta Sulsel dimana tiga Provinsi tersebut masjidnya melebihi angka rata – rata. Jawa Timur sebenarnya juga sama hanya Masjid di Jawa Timur banyak masjid yang terletak dalam wilayah – wilayah di dalam pondok – pesantren. Karena Jawa Timur adalah dominan tanah para santri di susul Banten dan Jabar serta Jateng.

Bayangkan dalam tadabur tentang hakikat masjid yang ada di setiap Desa Pulau Jawa bila rata – ratanya keberadaan hampir 6 hingga 10 masjid dalam setiap satu Desa. Maka sesungguhnya bahwa negara yang sangat religius masyarakatnya dan terbesar penduduk muslimnya di Dunia adalah Indonesia No. satu.

Dari sisi pembangunan masjid yang ada dengan hitungan yang sudah dengan angka yang muncul yakni angka tersebut belum terhitung dengan bilangan mushala nya. Artinya adalah betapa banyak fasilitas dan tempat sarana ibadah yang ada, sehingga bagaimana semua dapat memikirkan agar para generasi anak Indonesia gemar suka dekat sama masjid.

Masjid dengan eneka ragam macam pembangunan dan ciri khas nya secara arsitektur dan corak warna banyak yang memiliki rasa kekhusuan tersendiri masing – masing selain dapat dabarengi dengan sejuknya.

Bila di Jakarta, sungguh masjid itu sudah banyak yang ada di dalam pembangunan perkantoran dan perhotelan serta lembaga atau instansi sekalipun. Betapa indahnya sarana fasilitas masjid yang terhampar di bumi Indonesia ini tanpa kita kurang syukur wujudnya karena jarang sekali berpikir mungkin. Akan kita rasakan tentang eksistensi masjid ketika kita berada secara umum di LN bagian Barat betapa kita akan merasakan begitu lumayan jauh dari sarana ibadah atau rumah Allah tersebut.

Kompetensi mereka yang hatinya selalu terikat dengan segala rasa rindu kepada masjid, hatinya selalu merindukan rumah Allah. Merasakan betapa damai ketika hadir di dalam masjid, dan senantiasa menanti waktu datang panggilan sholat. Mereka lah ciri orang yang senantiasa mendapat jaminan payungan nauangan di hari kiamat. Hanya karena keberadaan wujud masjid dengan istiqomah melekat selalu rindu dalam hati jiwa raganya.

Mereka yang berlomba dan senantiasa merindukan masjid semestinya umat nabi Muhammad yang harusnya secara umum menang dengan kalimat sebuah hadits bahwa seseorang yang terpikat dan rindu dengan rumah Allah atau masjid yang dapat naungan Allah kudunya mereka lah orang Indonesia secara umum. Karena malu rasanya ketika banyak masjid disekitaran kita dimana hidup damai menyambung nafas penuh keberagaman dan keberagamaan dan fasilitasnya namun jangan sampai masjid tak ubah hanya sebuah lambang kebesaran simbol agama dalam moderasinya.

Membangun masjid dengan kemegahannya bukan tak boleh tapi sepatutnya dapat dibarengi membersamai dengan pembangunan masyarakat. Artinya penuhi masjid dengan segala sumber SDM lingkungan yang ada berjamaah dalam satu talian Allah. Jangan sekali bercerai berai hanya karena beda aliran akidah.

Diriwayatkan oleh Hadits Riwayat Abu Daud RA : Bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda :
“Bahwa kiamat tak akan terjadi hingga manusia bermegah – megahan dalam sarpras membangun inprastruktur masjid.”

Maka sejatinya dalam hal ini Kemenag dalam mewakili pemerintahan telah seyogyanya mengisi kesemakmuran masjid yang ada di Indonesia lebih konsen lagi dalam penganggaran untuk membangun sarana SDM dengan cara mengangkat yang alim dari masyarakat sekitaran dan dibimbing untuk Bimtek Khusus mengisi demi kesemakmuran dan potensi jamaah masjid dalam memaksimalkan kesamakmuran masjid.

Masjid secara umum yang ada di Nusantara ini hampir lebih dari 80 persen masjid – masjid itu dibangun oleh sumber daya swadaya masyarakat secara gotong royong. Maka sudah harusnya bergerak cepat Pemerintah lewat Kemenag mengkaji mengisi sosialisasi untuk lebih dekat ke masyarakat di lingkungan majemuk dimana hadir masjid hadir membersamai unsur Imam atau Ust dari binaan Pemerintah dimana mereka mendapat gaji dari negara.

Hadirnya Pemerintah khusus bantuan inprastruktur sarpras untuk masjid sedari dulu hingga kini Pemerntah belum mampu memaksimalkan, maka dari celah titik yang mana Pemerintah mau bergerak untuk masjid di Nusantara. Jagan sampai lewat anjuran Pemerintah yakni masjid hanya dapat tempelan baliho ketika khidmat pelayanan momen mudik doang, dasar amat memalukan dan pembodohan.

Semoga menjadi harapan bersama yaitu anggaran negara kedepan dari Presiden dapat dikhususkan alokasi untuk Program : “Pembinaan Bobot – Bibit NKRI Memanusiakan Insan Masjid Nusantara.”

“Hayya ‘Alal Falaah.”
Lewat pintu – pintu rahmat dimana ada pintu masjid. Marilah ayo antara imam dan makmum juga pemerintahnya kita raih menang maju jaya makmur berkah damai bersama NKRI.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin