Indramayu, kabarnusa24.com
Harun (37), warga Blok Gumiwang Utara, Desa Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, masih hidup dalam kecemasan setelah tanah di belakang rumahnya terus mengalami ambles. Fenomena yang terjadi sejak 2021 itu hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti, bahkan saat musim kemarau.
Dalam sebulan terakhir, penurunan permukaan tanah diperkirakan mencapai 1 hingga 2 meter. Kondisi tersebut membuat rumah Harun yang berada paling dekat dengan tanggul Sungai Cimanuk berada dalam ancaman serius dan nyaris roboh akibat pergerakan tanah yang terus terjadi.
Harun mengaku telah empat kali merenovasi rumahnya demi mempertahankan bangunan agar tetap berdiri. Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu menghilangkan rasa khawatir karena kondisi tanah terus bergerak.
Sebagai langkah darurat, ia membuat penahan fondasi menggunakan karung berisi tanah yang disangga bambu. Seluruh biaya perbaikan ditanggung secara mandiri demi mencegah rumahnya semakin miring.
Setiap kali merasakan getaran atau melihat tanda-tanda pergerakan tanah, Harun langsung memeriksa kondisi rumah. Di rumah itu ia tinggal bersama istri, anak, dan kedua orang tuanya, sehingga keselamatan keluarga menjadi kekhawatiran utama.
Kini, Harun bersama warga lainnya berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan tersebut. Jika kawasan itu dinilai sudah tidak layak dihuni, ia mengaku bersedia direlokasi demi keselamatan keluarganya.
“Saya siap direlokasi kalau memang ada tawaran dari pemerintah. Yang penting keluarga bisa tinggal di tempat yang lebih aman,” ujar Harun.







