JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Ketahanan industri kini tidak lagi ditentukan hanya oleh kemampuan masing-masing negara, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi internasional dalam menghadapi disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan dinamika ekonomi global.
Karena itu, Indonesia berkontribusi dalam penyusunan arah kerja sama industri negara-negara BRICS melalui 4th BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) Advisory Group Meeting di New Delhi, India.
Forum tersebut membahas penyusunan Joint Declaration yang akan menjadi pijakan kolaborasi BRICS di bidang inovasi industri, manufaktur hijau, pengembangan kompetensi, serta penguatan rantai pasok industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, BRICS PartNIR menjadi platform penting bagi Indonesia untuk menyelaraskan strategi transformasi industri nasional dengan agenda pembangunan industri negara-negara BRICS.
“Indonesia memandang PartNIR sebagai platform penting untuk menyelaraskan strategi industri nasional dengan kapabilitas kolektif negara-negara BRICS. Dengan menyatukan kekuatan dan saling berbagi strategi terbaik, kita dapat menjawab tantangan bersama serta memastikan kemajuan teknologi yang memberikan manfaat yang setara bagi seluruh negara peserta,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (07/08/26).
Komitmen Indonesia tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian BRICS PartNIR, mulai dari pertemuan pertama hingga keempat, termasuk berbagai sesi intersessional yang membahas penyusunan Joint Declaration. Peresmian Joint Declaration dilaksanakan pada agenda Industry Ministers Meeting di Jaipur 6 Juli 2026.

Konsistensi keikutsertaan Indonesia ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk berkontribusi dalam penyusunan arah kebijakan industri BRICS, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam kerja sama industri global.
Dalam forum tersebut, Indonesia memaparkan berbagai inisiatif transformasi industri nasional yang sejalan dengan prioritas BRICS PartNIR. Tiga di antaranya menjadi perhatian utama, yakni pertama, penguatan daya saing industri kecil dan menengah melalui program Industri Kecil Menengah (IKM) 4.0, dan akselerasi startup agar semakin adaptif terhadap teknologi digital dan mampu bersaing di pasar global.
Selain memaparkan berbagai inisiatif nasional, komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pemanfaatan berbagai platform kerja sama yang telah dibentuk BRICS. Pada BRICS Centre for Industrial Competencies (BCIC), Indonesia melihat peluang memperkuat pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan bersama dan pertukaran keahlian.
Selain itu, melalui BRICS PartNIR Innovation Center (BPIC), Indonesia ingin mewujudkan kolaborasi yang selama ini terjalin dapat berkembang menjadi proyek-proyek inovasi serta kemitraan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh negara anggota.
Dalam sambutannya pada acara Pertemuan BRICS PartNIR 4th Advisory Group Meeting 2026 di India (03/08/26), Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Tri Supondy mengatakan, partisipasi aktif Indonesia dalam BRICS PartNIR menjadi langkah penting untuk memperluas jejaring kerja sama industri sekaligus mempercepat transformasi sektor manufaktur nasional.
“Ke depan, Indonesia ingin meningkatkan keterlibatan yang selama ini telah terjalin menjadi kolaborasi yang lebih konkret, baik melalui pelatihan bersama, pertukaran keahlian, maupun kemitraan teknologi yang memberikan manfaat bagi seluruh negara anggota BRICS,” ujarnya.
Melalui keikutsertaan aktif dalam BRICS PartNIR, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kolaborasi internasional yang tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi diwujudkan dalam kerja sama yang lebih konkret di bidang pengembangan kompetensi, inovasi teknologi, dan transformasi industri guna mendukung daya saing manufaktur nasional di tingkat global.(Rizky Tile)







