Nasional

Kemenperin : Indonesia Perluas Sinergi Industri BRICS untuk Percepat Transformasi Manufaktur

5
×

Kemenperin : Indonesia Perluas Sinergi Industri BRICS untuk Percepat Transformasi Manufaktur

Sebarkan artikel ini
Kemenperin : Indonesia Perluas Sinergi Industri BRICS untuk Percepat Transformasi Manufaktur
Foto : Dok.Ist/Kemenperin

Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza menyampaikan remarks pada acara Pertemuan BRICS 10th Industry Ministers’ Meeting, di Jaipur India (6/8)


JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Ketahanan industri global kini tidak lagi ditentukan semata oleh besarnya investasi atau kapasitas produksi suatu negara. Di tengah disrupsi teknologi, perubahan iklim, serta dinamika rantai pasok dunia, kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjaga daya saing industri.

Perspektif tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan pada The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers di Jaipur, India (6/8) yang membahas berbagai prioritas kerja sama industri BRICS melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) sebagai bagian dari upaya membangun industri yang lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.

“Indonesia memandang BRICS sebagai wadah strategis untuk memperkuat kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri. Melalui kemitraan ini, kami ingin memastikan transformasi industri tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi investasi, inovasi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam keterangannya, Jumat (07/08/26).

Bagi Indonesia, forum tersebut memiliki arti strategis mengingat sektor manufaktur merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional sekaligus fondasi daya saing industri di tingkat global.

Pada triwulan pertama tahun ini, sektor manufaktur memberikan lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta menyumbang lebih dari 82 persen total ekspor nasional.

“Kinerja tersebut memperkuat posisi Indonesia untuk berkontribusi dalam berbagai kerja sama industri BRICS sekaligus memperluas keterlibatan industri nasional dalam rantai nilai global,” katanya.

Dalam forum tersebut, pembahasan difokuskan pada empat bidang prioritas, yaitu pengembangan UMKM, startup, logistik industri, dan industri panel surya.

Keempat bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dalam membangun ekosistem industri yang lebih tangguh, adaptif terhadap perubahan teknologi, serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan berkelanjutan.

Pada bidang UMKM industri, Indonesia memaparkan berbagai program peningkatan akses pembiayaan, adopsi teknologi, pengembangan SDM industri, hingga perluasan akses pasar internasional.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi agar Industri Kecil dan Menengah (IKM) semakin terhubung dengan rantai nilai regional maupun global.

Saat ini, IKM mencakup hampir 99,8 persen unit usaha industri di Indonesia, menyerap sekitar 65 persen tenaga kerja industri, dan memberikan kontribusi lebih dari 21 persen terhadap nilai tambah manufaktur nonmigas.


Kemenperin : Indonesia Perluas Sinergi Industri BRICS untuk Percepat Transformasi Manufaktur
Foto : Dok.Ist/Kemenperin

Pengembangan ekosistem inovasi industri juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam kerja sama BRICS. Melalui program Startup4Industry, Kementerian Perindustrian telah menghubungkan lebih dari 2.500 startup dengan pelaku industri, investor, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan pada bidang kecerdasan artifisial (AI), manufaktur cerdas, robotika, teknologi hijau, hingga semikonduktor.

“Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam pengembangan BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub sebagai sarana kolaborasi inovasi, investasi, dan pengembangan teknologi di antara negara anggota,” tuturnya.

Pada Photovoltaics (PV), sektor industri panel surya, Indonesia memaparkan pengembangan industri panel surya sebagai bagian dari transformasi menuju industri rendah karbon sekaligus penguatan rantai pasok energi bersih.

Sementara itu, pada sektor logistik industri, Indonesia memperkenalkan pemanfaatan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang mengintegrasikan data industri untuk meningkatkan efisiensi perencanaan industri, memperlancar arus logistik, serta memperkuat ketahanan rantai pasok manufaktur.

Selain empat bidang prioritas tersebut, Indonesia juga melihat peluang untuk memperluas kerja sama BRICS pada sektor-sektor strategis lainnya, khususnya pengembangan industri hijau, semikonduktor, dan industri agro.

“Ketiga bidang ini memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur di masa depan. Indonesia siap menjajaki kerja sama yang lebih konkret melalui berbagai Working Group PartNIR sesuai dengan prioritas dan kepentingan nasional,” tambah Wamen Faisol.

Keikutsertaan Indonesia pada The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers menandai berlanjutnya kontribusi Indonesia dalam kerja sama industri BRICS, mulai dari penyusunan arah kebijakan hingga implementasi berbagai program kolaborasi.

“Dengan demikian, kerja sama BRICS tidak hanya memperluas jejaring diplomasi ekonomi, tetapi juga membuka ruang yang lebih besar bagi industri Indonesia untuk berpartisipasi dalam rantai nilai global serta mempercepat transformasi manufaktur nasional,” pungkasnya.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin