JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Kementerian Perindustrian semakin aktif memacu keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam rantai pasok industri nasional.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempertemukan IKM logam potensial dengan industri skala besar agar tercipta kemitraan bisnis yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan memperdalam struktur industri manufaktur nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, IKM memiliki kontribusi penting dalam pembangunan industri nasional, termasuk dalam menggerakkan perekonomian dan menyerap tenaga kerja.
Karena itu, penguatan kemitraan IKM dengan industri besar perlu terus diperluas agar pelaku IKM dapat meningkatkan kapasitas, kualitas, dan daya saingnya.
“IKM berperan besar dalam menggerakkan perekonomian serta penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kinerja IKM sekaligus memperkuat ketahanan industri manufaktur nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (09/08/26).
Menurut Menperin, industri logam memiliki posisi strategis dalam struktur manufaktur nasional karena menjadi pemasok berbagai komponen dan produk penunjang bagi beragam sektor, mulai dari otomotif, alat berat, alat kesehatan, konstruksi, hingga permesinan.
Dengan kebutuhan industri yang semakin beragam, terbuka ruang yang luas bagi IKM logam untuk meningkatkan perannya sebagai bagian dari rantai pasok industri besar.
“Ketika IKM mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar, baik BUMN maupun swasta, sekaligus terlibat dalam program vendor development, peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar. Dengan demikian, IKM tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga mendukung terwujudnya rantai pasok nasional yang semakin tangguh,” tutur Agus.
Menperin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri untuk memperluas akses pasar bagi IKM. Keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri besar diharapkan menjadi sarana peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, kompetensi sumber daya manusia, serta kemampuan memenuhi standar dan spesifikasi yang dibutuhkan industri.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) menyelenggarakan Fasilitasi Kemitraan IKM Logam dengan Industri Besar di Jawa Barat pada 29–30 Juli 2026.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya konkret Kemenperin dalam mengakselerasi masuknya IKM logam ke dalam rantai pasok industri besar.
Dalam pelaksanaannya, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK) untuk menyiapkan IKM potensial yang dipertemukan secara langsung dengan calon mitra industri besar.
Provinsi Jawa Barat menjadi lokasi strategis dalam pelaksanaan program tersebut mengingat wilayah ini merupakan salah satu basis industri manufaktur terbesar di Indonesia.
Keberadaan berbagai perusahaan manufaktur berskala nasional maupun multinasional menciptakan kebutuhan rantai pasok yang beragam, mulai dari bahan baku, komponen pendukung, hingga jasa pendukung industri.
Selain peluang yang tersedia di Jawa Barat, IKM logam juga berpotensi membangun kemitraan dengan industri besar dari wilayah lainnya, terutama pada sektor alat kesehatan dan komponen permesinan. Peluang tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pasar sekaligus memacu diversifikasi produk IKM.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Reni Yanita mengatakan, IKM logam memiliki peluang yang semakin luas untuk mendukung kebutuhan industri.
Peran tersebut tidak hanya terbatas sebagai pemasok komponen, tetapi juga dapat berkembang sebagai penyedia layanan perawatan, perbaikan, dan rekayasa berbagai mesin serta peralatan produksi yang digunakan industri besar.
“Pelaksanaan temu bisnis ini merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan IKM dengan industri besar dalam rangka membangun kemitraan yang saling menguatkan. Melalui dialog dan penjajakan peluang bisnis secara langsung, IKM dapat memahami kebutuhan industri, meningkatkan kesiapan usahanya, serta membuka peluang untuk menjadi pemasok bagi industri besar,” kata Reni.
Reni berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada kegiatan temu bisnis, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi hubungan komersial yang konkret dan berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan ini menghasilkan tindak lanjut kemitraan yang nyata dan berkelanjutan sehingga dapat memperkuat ekosistem industri nasional,” ujarnya.

Penjajakan Langsung
Rangkaian kegiatan fasilitasi kemitraan diawali dengan kunjungan ke sejumlah IKM logam di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi. Melalui kunjungan tersebut, calon mitra dari industri besar dapat melihat secara langsung proses produksi, kualitas produk, kapasitas produksi, serta kesiapan IKM dalam memenuhi kebutuhan industri.
Kunjungan lapangan tersebut diikuti sejumlah perusahaan, antara lain PT Perkebunan Nusantara, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, dan PT Sarandi Karya Nugraha.
Setelah kunjungan lapangan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Temu Bisnis IKM Logam dengan Industri Besar di Karawang pada 30 Juli 2026. Forum ini dirancang untuk membuka komunikasi langsung antara IKM dan calon mitra sehingga kebutuhan maupun kemampuan masing-masing pihak dapat dipetakan secara lebih konkret.
“Forum ini menjadi wadah dialog antara pelaku IKM dengan industri besar untuk membahas kebutuhan industri, spesifikasi produk, standar kualitas, hingga peluang kerja sama yang dapat diwujudkan melalui kemitraan bisnis yang berkelanjutan,” ungkap Reni.
Sementara itu, Plt. Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan menjelaskan, fasilitasi kemitraan tidak hanya bertujuan mempertemukan IKM dengan industri besar.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi IKM untuk memahami kebutuhan pasar, standar yang diterapkan industri, serta membangun jejaring bisnis yang berpotensi menghasilkan kerja sama jangka panjang.
“Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari sektor BUMN maupun swasta, di antaranya PT Perkebunan Nusantara, Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), PT Sarandi Karya Nugraha, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, Perkumpulan Alat Besar Indonesia (HINABI), PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, serta PT United Tractors Pandu Engineering,” jelas Budi.
Sebanyak 30 IKM logam dari Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Para peserta memiliki beragam kompetensi, mulai dari fabrikasi logam, machining, pembuatan komponen logam, hingga penyediaan jasa pendukung industri.
Keberagaman kemampuan tersebut menjadi modal bagi IKM untuk memperluas peluang kemitraan dengan industri besar yang membutuhkan pemasok lokal dengan spesifikasi dan kemampuan produksi yang sesuai.
Kemenperin berharap sinergi yang dibangun melalui kegiatan tersebut dapat menghasilkan semakin banyak IKM logam yang masuk ke dalam rantai pasok industri besar.
Kemitraan yang terbentuk juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan skala usaha IKM sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penguatan struktur industri manufaktur nasional.
“Kami berharap melalui kegiatan fasilitasi kemitraan ini dapat terjalin hubungan bisnis yang berkelanjutan serta semakin memperkuat keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri nasional. Dengan demikian, IKM dapat berkontribusi dalam memperdalam struktur industri, memperkuat kemandirian industri nasional, dan mendukung pembangunan sektor manufaktur yang semakin maju,” pungkas Budi.(Rizky Tile)







