Kabarnusa24.com
BANDUNG – Memasuki usia ke-9 tahun, Paguyuban Cepot Motah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan seni dan budaya Nusantara. Momentum Milangkala ke-9 tersebut dirayakan melalui kegiatan “Gebyar Pagelaran Seni Budaya Nusantara” yang mengusung semangat “Rempug Jukung Sauyunan Digawé Babarengan.”

Kegiatan yang digelar pada Minggu, 16 Agustus 2026, di Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Braga dan Asia Afrika, Kota Bandung, menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Paguyuban Cepot Motah Indonesia untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kebersamaan, sekaligus menghidupkan kembali semangat pelestarian seni dan budaya Nusantara.
Beragam kesenian tradisional ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pencak silat, wayang, debus hingga berbagai pertunjukan seni budaya lainnya. Pagelaran ini menjadi bukti bahwa perjalanan sembilan tahun Paguyuban Cepot Motah Indonesia tidak hanya dibangun melalui kebersamaan organisasi, tetapi juga melalui kepedulian terhadap budaya dan masyarakat.
Ketua Umum Paguyuban Cepot Motah Indonesia, Tommy Subagja, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan Milangkala ke-9 tersebut.

Menurut Tommy, usia sembilan tahun bukanlah akhir dari perjalanan organisasi, melainkan menjadi momentum untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat langkah ke depan agar Paguyuban Cepot Motah Indonesia semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Alhamdulillah, kegiatan Milangkala ke-9 ini bisa terlaksana dengan sukses. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu awal perjuangan kita. Bukan akhir, tetapi bagaimana ke depannya Paguyuban Cepot Motah Indonesia bisa semakin berkembang, semakin maju dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Tommy.
Ia menegaskan, selama perjalanan organisasi, Paguyuban Cepot Motah Indonesia berupaya tidak hanya bergerak dalam bidang seni dan budaya. Sejumlah program sosial dan pemberdayaan masyarakat juga terus dikembangkan, termasuk program yang berkaitan dengan UMKM.
“Selama ini kita selalu berusaha mendukung program-program pemerintah. Kita sudah memiliki program UMKM, program sosial, dan sekarang kita semakin memperkuat program di bidang seni dan budaya. Harapannya ke depan akan semakin banyak program yang bisa kita jalankan,” katanya.
Menurut Tommy, seni dan budaya merupakan bagian penting dari identitas bangsa. Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan secara bersama-sama, khususnya dengan melibatkan generasi muda.
Ia berharap kegiatan Milangkala ke-9 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan Nusantara.
“Budaya jangan sampai hilang. Generasi muda harus mengenal dan mencintai seni budaya kita. Karena kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, siapa lagi,” tutur Tommy.
Soroti Peredaran Tramadol
Selain berbicara mengenai seni dan budaya, Tommy juga menyoroti persoalan peredaran obat-obatan yang dapat membahayakan generasi muda, salah satunya tramadol.
Ia mengatakan, Paguyuban Cepot Motah Indonesia berkomitmen untuk ikut mendukung program pemerintah dalam mencegah dan memberantas peredaran obat-obatan yang dapat merusak generasi bangsa.
“Beberapa bulan terakhir kita juga mendukung program pemerintah dalam pemberantasan peredaran tramadol. Ini merupakan salah satu hal yang sangat membahayakan karena dapat merusak generasi bangsa. Kita akan terus mengawal dan mendukung upaya pemberantasannya,” tegas Tommy.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun aparat penegak hukum. Masyarakat dan organisasi kemasyarakatan juga memiliki peran untuk membantu menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi generasi muda.
Ia menyebut, dalam beberapa kegiatan di sejumlah daerah, pihaknya menemukan persoalan yang berkaitan dengan peredaran obat-obatan tersebut. Namun, Tommy menegaskan setiap langkah harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap berkoordinasi dengan pihak yang berwenang.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama mengawalnya dan berkoordinasi dengan pihak yang berwenang. Jangan sampai generasi muda kita menjadi korban,” ujarnya.
Sembilan Tahun, Terus Berkarya dan Bersinergi
Memasuki usia sembilan tahun, Paguyuban Cepot Motah Indonesia ingin menjadikan momentum Milangkala ke-9 sebagai titik untuk memperluas kontribusi organisasi di tengah masyarakat.
Tidak hanya melalui seni dan budaya, tetapi juga melalui program sosial, pemberdayaan UMKM serta dukungan terhadap berbagai program pemerintah yang menyentuh kepentingan masyarakat.
Tommy berharap semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan Paguyuban Cepot Motah Indonesia dapat terus dipertahankan.
“Harapan kita, Indonesia ke depan semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, budaya Nusantara semakin dikenal dan generasi mudanya semakin kuat. Kita ingin terus bergerak, berkarya dan bersinergi untuk masyarakat serta bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Milangkala ke-9 Paguyuban Cepot Motah Indonesia pun menjadi pengingat bahwa perjalanan organisasi bukan sekadar menghitung usia, tetapi bagaimana setiap tahun dapat diisi dengan karya, kepedulian dan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pelestarian seni budaya Nusantara.
(Jaka)







