Daerah

Politik Hukum Indonesia Dianggap Kerdil, Akademisi Soroti Ketidakpastian Pembangunan dan Isu Korupsi

3
×

Politik Hukum Indonesia Dianggap Kerdil, Akademisi Soroti Ketidakpastian Pembangunan dan Isu Korupsi

Sebarkan artikel ini
Politik Hukum Indonesia Dianggap Kerdil, Akademisi Soroti Ketidakpastian Pembangunan dan Isu Korupsi

JAKARTA – kabarnusa24.com

Praktisi dan Akademisi Hukum Pidana, Dr. Weldy Jevis Saleh, S.H., M.H., menilai narasi politik hukum di Indonesia saat ini mencerminkan ketidakmajuan dalam berpikir dan bernegara. Praktik politik “belah bambu” serta kebiasaan merombak kebijakan setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan dinilai menjadi penghambat utama kemajuan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur nasional.

“Setiap pergantian kepemimpinan eksekutif, baik di tingkat daerah maupun pusat, selalu diiringi perubahan peraturan. Bergantinya program pemerintah dengan dalih *like or dislike* membuat kepastian pembangunan makin tidak menentu,” tegas Weldy dalam keterangannya.

*Kritik terhadap Kebijakan Baru dan Isu Hukum**

Weldy menyoroti program-program strategis dari pemerintahan sebelumnya yang seharusnya dilanjutkan, namun kerap diubah atau dihentikan oleh rezim baru dengan dalih program pro-rakyat. Menurutnya, beberapa kebijakan baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih justru rentan dinunggangi kepentingan politik serta menimbulkan persoalan teknis di lapangan.

Selain ketidakpastian kebijakan, ancaman korupsi yang merambah berbagai sektor juga dinilai dapat membahayakan eksistensi negara, sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa negara di Afrika.

Weldy turut menyoroti penegakan hukum di Indonesia yang terkesan tidak pasti akibat bongkar-pasang peraturan perundang-undangan. Dampaknya, energi bangsa habis untuk isu-isu yang dinilai kurang mendesak:

Penyelesaian Kasus Hukum: Penanganan kasus korupsi bernilai fantastis, seperti dugaan penyimpangan pada program MBG, dinilai harus lebih diprioritaskan ketimbang polemik politik.

Polemik Ijazah Pemimpin: Perdebatan berkepanjangan terkait isu ijazah mantan Presiden Joko Widodo hingga Wakil Presiden yang sedang menjabat dinilai membuang energi nasional.

Pengalihan Isu Prioritas: Aksi saembara atau narasi yang dibangun oleh sejumlah figur publik—seperti Roy Suryo, Dr. Tifa, Prof. Denny Indrayana, dan Mercy Sihombing—dinilai mengalihkan fokus dari persoalan mendasar seperti korupsi, kerusakan lingkungan, hingga ketimpangan ekonomi dan SDM di daerah tertinggal, termasuk Papua dan Aceh.

*Menuju Indonesia Emas 2045*

Mengutip ungkapan R.A. Kartini, “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang), Weldy berharap Indonesia dapat segera melewati masa-masa sulit ini menuju pembenahan tata kelola negara yang lebih matang.

“Harapannya tidak ada lagi polemik antar-anak bangsa yang hanya bertujuan mencari kesalahan sesama. Fokus utama harus dikembalikan pada penyelesaian ketimpangan hukum, ekonomi, dan pembangunan SDM di seluruh pelosok negeri demi tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045,” tutupnya.

Narahubung Media:

*Dr. Weldy Jevis Saleh, S.H., M.H.*

*Praktisi & Akademisi Hukum Pidana*
(Red Jimy)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin