Daerah

Tak Sekadar Bisa Membaca, Literasi di Lumajang Didorong Jadi Benteng Hadapi Banjir Informasi

6
×

Tak Sekadar Bisa Membaca, Literasi di Lumajang Didorong Jadi Benteng Hadapi Banjir Informasi

Sebarkan artikel ini
Tak Sekadar Bisa Membaca, Literasi di Lumajang Didorong Jadi Benteng Hadapi Banjir Informasi
oplus_2

Tak Sekadar Bisa Membaca, Literasi di Lumajang Didorong Jadi Benteng Hadapi Banjir Informasi

LUMAJANG,jatim mandiri — Ketika informasi datang tanpa henti melalui layar telepon genggam, kemampuan membaca tak lagi cukup. Masyarakat dituntut mampu memahami, memilah, dan mengendalikan diri agar tidak mudah terseret informasi yang belum tentu benar.

 

Pesan itulah yang mengemuka dalam puncak rangkaian kegiatan literasi di Kabupaten Lumajang. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lumajang Indra Wibowo Leksana, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa literasi harus dimaknai lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca buku.

 

“Literasi jangan diartikan hanya baca-membaca. Secara luas, seluruh pancaindra kita berfungsi untuk memahami sesuatu,” kata Indra.

 

Kegiatan tersebut merupakan puncak rangkaian program literasi yang digelar sejak 12 Agustus. Beragam kegiatan dilakukan, mulai dari bedah buku, lomba resensi, menulis kembali, hingga penulisan karya mengenai asal-usul sejumlah tempat dan daerah khas Lumajang.

 

Peserta antara lain diajak menggali cerita mengenai asal-usul Banyuputih, Selokambang, dan berbagai daerah lainnya. Bagi Indra, kegiatan semacam itu memiliki dua fungsi sekaligus: menumbuhkan budaya literasi sekaligus menjaga pengetahuan dan cerita lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

 

Bukan Sekadar Membaca Buku

 

Indra mengatakan tantangan literasi saat ini tidak hanya bagaimana membuat masyarakat gemar membaca, tetapi juga bagaimana membangun kemampuan memahami informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

 

Ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat masyarakat sepenuhnya meninggalkan buku.

 

“Jangan sampai masyarakat hanyut dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, tetapi lupa bahwa membaca itu penting,” ujarnya.

 

Menurut dia, keberadaan gawai tidak seharusnya membuat buku kehilangan tempat. Justru keduanya perlu ditempatkan secara proporsional, dengan kemampuan literasi sebagai bekal untuk memahami informasi yang diterima masyarakat setiap hari.

 

“Kita berusaha mendekatkan buku kepada masyarakat. Buku yang di Lumajang tidak ada, kita dekatkan. Termasuk Gramedia, agar masyarakat memahami bahwa membaca itu banyak manfaatnya,” katanya.

 

Membaca dan Kemampuan Mengendalikan Diri

 

Indra juga menyoroti dampak literasi terhadap cara seseorang menyikapi orang lain dan mengambil keputusan.

 

Menurut dia, membaca secara baik bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menilai suatu persoalan.

 

“Kalau kita membaca dengan baik, memaknai arti membaca, kita tidak akan mudah menghakimi orang lain, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan mampu mengendalikan diri,” katanya.

 

Kemampuan tersebut dinilai penting ketika masyarakat berhadapan dengan berbagai informasi dan perbedaan pandangan. Pengetahuan yang diperoleh melalui proses membaca dan memahami informasi dapat menjadi dasar sebelum seseorang mengambil sikap.

 

“Tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang tidak kita inginkan. Lebih dari itu, kita bisa mengambil keputusan dengan baik karena memiliki dasar dari apa yang kita pahami melalui buku dan kegiatan berliterasi,” ujar Indra.

 

Literasi Tak Boleh Berhenti di Acara Seremonial

 

Indra berharap kegiatan literasi di Lumajang tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau sekadar acara seremonial. Ia ingin gerakan tersebut tumbuh di berbagai ruang kehidupan masyarakat.

 

Menurut dia, penguatan literasi perlu melibatkan lebih banyak unsur, mulai dari komunitas, paguyuban, hingga dunia usaha.

 

“Harapan kami, kegiatan ini ke depan tidak hanya berhenti di sini, tetapi terus berkembang dan bisa lestari. Kegiatan literasi itu sangat penting di lingkungan masyarakat, baik komunitas, paguyuban, dunia usaha, maupun yang lainnya,” katanya.

 

Dengan demikian, literasi diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca teks, tetapi berkembang menjadi kemampuan masyarakat dalam memahami informasi, menjaga pengetahuan lokal, berpikir lebih matang, serta menentukan sikap di tengah derasnya arus informasi digital.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin