TAPTENG —Kabarnusa24.com)Apa yang sedang dipertontonkan di internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Tapanuli Tengah kini mulai memancing cibiran masyarakat. Partai yang seharusnya menjadi garda terdepan mengawal pemerintahan pasca kemenangan Pilkada 2024 justru dinilai sedang sibuk mempertontonkan drama rebutan pengaruh dan “kue kekuasaan” di depan publik.
Di warung kopi, di sudut kampung, hingga di tengah perkumpulan warga, pembicaraan soal keributan kader berseragam merah kini menjadi bahan tertawaan sekaligus keprihatinan masyarakat. Teriakan, keributan, hingga suasana memanas yang disebut-sebut sampai membuat meja dan kursi terbalik dinilai sangat memalukan bagi partai besar yang selama ini mengklaim diri sebagai partai wong cilik.
Sabtu, 30 Mei 2026, Afandi dan Pak Iwan, warga Tapanuli Tengah yang ikut menyoroti kejadian itu, menilai publik kini semakin yakin bahwa sebagian elit politik hanya kompak saat mengejar kemenangan. Setelah kekuasaan berhasil diraih, yang muncul justru saling sikut, saling merasa paling berjasa, dan saling berebut posisi.
“Rakyat melihat sendiri sekarang. Baru menang sudah ribut. Belum lama duduk kekuasaan sudah saling serang cuma karena merasa tidak kebagian kue. Ini sangat bobrok dipertontonkan ke masyarakat,” tegas Afandi dalam perbincangan warga.
Pak Iwan juga menilai kondisi tersebut menunjukkan wajah asli sebagian elit yang selama ini hanya menunggu momentum kekuasaan. Menurutnya, saat partai jatuh bangun mempertahankan eksistensi di daerah, kader-kader lama berdarah-darah menjaga partai tetap hidup. Namun begitu jabatan dan pengaruh mulai terbuka, mendadak muncul orang-orang yang merasa paling hebat dan paling menentukan arah partai.
“Yang lucu itu, waktu partai susah banyak yang diam. Tapi sekarang setelah kekuasaan ada, semua mendadak merasa paling berjasa. Rakyat tidak bodoh melihat itu,” ujar Pak Iwan.
Situasi ini dinilai menjadi tamparan keras bagi citra partai pengusung pemerintahan. Sebab di saat rakyat berharap pemerintah fokus bekerja menyelesaikan persoalan daerah, yang terlihat justru elit politik sibuk bertarung sesama sendiri demi pengaruh dan jatah kekuasaan.
Masyarakat pun mulai mempertanyakan, apakah perjuangan politik hari ini masih benar-benar untuk rakyat, atau hanya sekadar kendaraan menuju kursi dan pembagian kepentingan? Jangan sampai slogan perjuangan hanya tinggal hiasan, sementara praktik di lapangan justru mempertontonkan kerakusan politik yang vulgar dan memuakkan.
Jika konflik internal ini terus dibiarkan, maka bukan hanya marwah partai yang runtuh, tetapi kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan yang mereka usung juga perlahan akan hancur. Sebab rakyat sekarang melihat, mendengar, dan menilai sendiri siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang hanya datang ketika aroma kekuasaan mulai tercium, tutupnya.
(Hasanuddingulo)






