Opini

Teguran Lewat Jalan Alam Antara Statistik Sunatullah dan Tanda Bumi Sedang Kritis

15
×

Teguran Lewat Jalan Alam Antara Statistik Sunatullah dan Tanda Bumi Sedang Kritis

Sebarkan artikel ini
Teguran Lewat Jalan Alam Antara Statistik Sunatullah dan Tanda Bumi Sedang Kritis

Oleh : Sutriachol Haris, L.C

Kabarbusa24.com,- Bumi dan langit sebagai sarana yang tuhan ciptakan lewat jalan besar anugerahnya untuk mencapai agar porosnya berjalan stabil lagi berputar pertanda sebagai fungsi tanda kebesarannya.

Segala sesuatu di dunia ini berlaku dengan hukum yang bernama sebab akibat (sunatullah) . Ketika manusia sebagai kuasanya hadir di ciptakan Allah sebagai dan selaku makhluk yang berpenghuni di muka bumi dalam lingkup dimana indikasi kerusakan alam konotasinya telah nampak diceritakan bahwa nampaknya akan kerusakan secara umum diakibatkan oleh tangan perbuatan jahil manusia. Karenanya jika manusia ingin mencapai sesuatu, manusia kudu mencari menggunakan jalan atau sarana yang tepat.

Dikisahkan oleh umat terdahulu dimana sejatinya manusia kini dapat mengambil banyak pelajaran kisah demi kisah dapat sejatinya dipetik akan hikmah. Sebagaimana diceritakan Al-quran Al- kahfi ayat 84.

“Sungguh bahwa kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan kami telah memberikan jalan kepadanya untuk mencapai segala sesuatunya”.

Hamparan dan sarana yang terbentang seperti gunung – gunung dan lautan juga hamparan daratan yang indah tercipta sebagai jalan dan sarana agar manusia dapat meraih untuk mencapai hidup dalam tenang selain untuk dapat memperoleh sesuatu yang dingini oleh manusia guna apa yang diperlukan dalam mewujudkan harapannya dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Ketika kerusakan alam dan kelalaian manusia atau kesengajaan manusia seperti karhutla dan lain sebagainya kelalaian akibat tergiur pesona harta dunia ingat hal tersebut sungguh dapat mengubah situasi yang seharusnya hudup damai segala damai dalam penuh ketenangannya karena situasi wujud Indonesia emas dapat berubah situasi menjadi ujian yang berat. Artinya dari segala lini kudu terus menerus perbaiki sistem dan pentingnya sumber daya manusia yang mengisi segala lini yang betakhlak mulia dalam sumber daya alam demi hadirnya untuk dapat menjaga kerusakan alam kita bisa berangkat sejak dari rumah dan mulai dari K/L hingga hutan dan lahan bahkan lautan sekalipun.

Kesemua manusia dengan segala sumber dayanya diantara mereka yang selamat dari jeratan rusaknya alam yang dapat sekaligus bisa bersahabat dengan alam itulah hakikat manusia sejati. Dimana dahulu para sahabat pun masih ada mereka yang nenghendaki kehidupan yang kekal abadi disana tak terpancing oleh – oleh apapun selama itu berbau cinta dunia berlebihan.

Bukan tak boleh cinta dunia. Ingat, berlebihan. Ini adalah haram. Karena dapat merusak manusia merasuk kedalam menjadi iblis, bukan manusia lagi namanya.
Karena mereka siapapun selama menghendaki akhirat dan meyakini akhirat lebih baik lagi kekal maka mereka akan menjadi manusia yang tetap teguh manaati segala perintah. Baik perintah Allah, Rasul dan Ulil amri atau Pemerintah.

Kata kuncinya kerusakan apapun hadir akibat karasukan dunia secara over. Atau dapat dibilang dengan kata lewat alam ia pantas dapat pelajaran walau secara statistiknya bahwa alam dapat bersahabat secara utuh.

Ketika ada kata ‘dapat’ maka seyogyanya manusia dapat mempelajari dan terus belajar lagi belajar bahkan semestinya manusia dapat mencintai alam sama seperti ia mencintai dirinya sendiri dimana pun contoh kecil hal yang mudah membiasakan berbudaya dengan tak membuang sampah di sembarang tempat.

Sejalan statistik catatan iradah tuhan dapat sejalan damai dengan ikhtiar harapan manusia bersamaan penelitian dan kajian yang tak berubah menjelma bahwa ini bukan pertanda hakikat bumi sedang kritis. Akibat sebab yang di akibatkan oleh letusan gunung, bencana banjir bandang air bah, dan lain – lain. Karena semua dapat merubah seketika akan segala sumber arah mata hidup baik ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan seterusnya.

Karena sejatinya terjadi kerusakan alam secara besar – besaran atau dalam kamus bahasa agama yakni terjadinya tanda kiamat karena rusaknya alam oleh manusia. Hakikat manusia yang baik itu akan menjadi habis dan dihabisi oleh manusia yang tak baik hingga tak ada seorang pun yang beriman dan hancurlah bumi. Seraya mari kita selalu berlindung kepada sang pencipta untuk keselamatan kita dan bangsa.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin