“Ganteng Bersama SMATA”: Cara SMA Negeri 1 Tempeh Tegakkan Disiplin Rambut Tanpa Mempermalukan Siswa
LUMAJANG, kabarnusa 24 com— Menegakkan disiplin di sekolah tak selalu harus dilakukan dengan bentakan, hukuman, atau mencukur rambut siswa secara paksa. SMA Negeri 1 Tempeh (SMATA), Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memilih cara berbeda melalui program “Ganteng Bersama SMATA”.
Melalui program tersebut, sekolah mendatangkan sejumlah tenaga profesional dari barbershop untuk merapikan rambut siswa yang dinilai sudah melewati ketentuan tata tertib sekolah. Menariknya, para siswa bebas memilih model rambut yang sesuai dengan karakter rambut mereka dan seluruh layanan diberikan secara gratis.Selasa,11/8/2026
Kepala SMA Negeri 1 Tempeh, Sutrisno, S.Pd., mengatakan program itu merupakan bagian dari upaya sekolah menegakkan tata tertib sekaligus menjaga martabat siswa.
“Zaman dulu, kalau anak-anak rambutnya tidak rapi, langsung dipreteli. Sekarang tidak. Ada filosofi memartabatkan murid, memanusiakan murid dalam kegiatan apa pun,” ujar Sutrisno.
Menurut dia, secara langsung memang tidak ada hubungan antara panjang rambut dan kemampuan akademik siswa. Namun, aturan mengenai kerapian rambut digunakan sekolah sebagai sarana untuk menanamkan kesadaran disiplin.
“Anak sekarang kan bertanya, apa hubungannya rambut panjang dengan pendidikan? Kalau dihubungkan secara langsung memang tidak ada. Tetapi yang kita latih adalah bagaimana anak-anak taat pada aturan,” katanya.
Sutrisno menilai kepatuhan terhadap aturan kecil merupakan bagian dari proses membangun karakter. Karena itu, sekolah berupaya mengubah pendekatan dalam menegakkan disiplin, dari cara-cara yang bersifat memaksa menjadi pendekatan persuasif.
“Kalau aturan yang kecil saja tidak bisa ditaati, bagaimana dengan aturan yang besar?” ujar dia.
Sembilan Barbershop Dilibatkan
Gagasan mendatangkan barber profesional muncul setelah sekolah melihat masih banyak siswa yang memiliki rambut gondrong atau kurang rapi meskipun telah beberapa kali diingatkan.
Daripada guru memotong sendiri rambut siswa dengan hasil yang belum tentu sesuai, sekolah kemudian mengundang sekitar sembilan tenaga barber profesional.
Para siswa juga diberikan sejumlah pilihan model rambut. Mereka dapat memilih model yang dianggap sesuai dengan bentuk dan karakter rambut masing-masing, baik rambut lurus maupun bergelombang.
“Kalau kami guru yang melakukan, hasilnya mungkin rapi, tetapi belum tentu seperti di barbershop. Akhirnya kami datangkan barbershop. Anak-anak kami beri pilihan, mau model yang ini atau yang itu,” kata Sutrisno.
Respons siswa, menurut dia, justru positif. Mereka mengikuti kegiatan tersebut secara sukarela dan merasa senang karena memperoleh layanan potong rambut secara gratis.
“Anak-anak ternyata suka, anak-anak senang. Bahkan tidak cukup sehari,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Tempeh, Affandi mengatakan program tersebut sejalan dengan visi sekolah untuk memartabatkan dan menghargai siswa.
“Kami ingin memartabatkan murid. Jadi tidak langsung dipotong atau seperti dulu. Kami mengundang yang profesional supaya hasilnya semakin bagus,” kata Affandi.
Ia menambahkan, layanan tersebut sama sekali tidak membebani siswa maupun orangtua karena seluruh biaya ditanggung sekolah.
“Semua gratis, tidak dipungut biaya apa pun,” ujarnya.
Bukan Sekadar Soal Rambut
Menurut Sutrisno, program Ganteng Bersama SMATA tidak semata-mata berbicara tentang model rambut. Lebih jauh, sekolah ingin membangun kesadaran bahwa mengikuti tata tertib merupakan bagian dari pembentukan karakter.
Ia memahami bahwa sebagian siswa mungkin merasa tidak ada persoalan dengan rambut panjang. Namun, sekolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan bersama membutuhkan aturan yang disepakati dan dipatuhi.
“Yang kami lakukan adalah disiplin positif dengan persuasif. Kami beri pemahaman bahwa memang rambut tidak ada hubungannya dengan pendidikan, tetapi taat pada tata tertib dan disiplin itu adalah awal dari keberhasilan,” kata Sutrisno.
Pendekatan tersebut juga dinilai membantu orangtua. Dengan kesibukan siswa yang berlangsung hingga sore hari, waktu untuk membawa anak ke tempat cukur menjadi terbatas.
“Orangtua terbantu untuk memperhatikan anak-anaknya. Kalau diperintah sendiri oleh orangtua kadang anak tidak mau, terutama urusan rambut,” ujarnya.
Selain itu, biaya potong rambut yang saat ini berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 juga tidak perlu dikeluarkan oleh orangtua.
Sutrisno mengatakan sejumlah orangtua memberikan respons positif terhadap program tersebut. Mereka dinilai senang karena anak-anak tidak merasa dipermalukan dan mendapatkan fasilitas secara cuma-cuma.
Dari Rambut Menuju Keterampilan Siswa
Meski program tersebut belum diarahkan untuk menjadi layanan barbershop permanen di sekolah, Sutrisno mengatakan pihaknya telah menyiapkan gagasan lanjutan.
Ke depan, sekolah berencana melibatkan sebagian siswa untuk belajar keterampilan dasar mencukur rambut dari tenaga profesional.
“Suatu ketika mungkin mereka kami undang untuk melatih sebagian anak-anak. Sekolah punya alat, lalu anak-anak punya keterampilan. Ketika ada temannya yang gondrong, teman yang sudah terlatih itu yang akan memotong,” katanya.
Menurut Sutrisno, langkah tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan sekolah kepada pihak eksternal. Tenaga barber tidak harus selalu didatangkan setiap kali terdapat persoalan rambut siswa.
Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama program bukan menciptakan lapangan pekerjaan, melainkan membangun keterampilan sekaligus kedisiplinan siswa.
“Belum sampai terpikir menciptakan lapangan pekerjaan. Karena SMA targetnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Tetapi tidak ada salahnya kalau kita juga membekali keterampilan,” ujarnya.
Disiplin yang Menyenangkan
Sutrisno mengatakan pendekatan Ganteng Bersama SMATA juga sejalan dengan prinsip pembelajaran yang ingin dibangun sekolah: bermakna, kolaboratif, dan menyenangkan.
Menurut dia, pendidikan karakter tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang patuh karena takut dihukum. Sekolah ingin membangun kesadaran agar siswa menaati aturan dengan sukarela.
“Kalau disiplin dengan paksaan memang bisa. Tetapi sisi joyful-nya tidak dapat. Disiplinnya dapat, tetapi anak tidak merasa senang,” kata Sutrisno.
Karena itu, sekolah ingin mencari berbagai inovasi untuk menegakkan aturan secara manusiawi.
“Kita ingin bagaimana menanamkan nilai-nilai disiplin dengan berkesadaran, tidak dengan paksaan. Harapannya, mereka menaati aturan dengan senang hati,” ujarnya.
Bagi Sutrisno, rambut hanyalah pintu masuk. Setelah persoalan kerapian rambut dapat ditangani dengan pendekatan yang positif, sekolah akan mengembangkan cara serupa untuk persoalan tata tertib lainnya.
“Kita berawal dari rambut dulu,” kata Sutrisno.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat membuktikan bahwa kedisiplinan dan penghargaan terhadap siswa bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersamaan ketika sekolah memilih cara yang persuasif, kolaboratif, dan memanusiakan siswa.(D.S)







