Opini

Dua Tahun Prabowo – Gibran Kepemimpinan Berliku Terjal dan Derasnya Over Kontrol Sosial Arus Bawah

9
×

Dua Tahun Prabowo – Gibran Kepemimpinan Berliku Terjal dan Derasnya Over Kontrol Sosial Arus Bawah

Sebarkan artikel ini
Dua Tahun Prabowo - Gibran Kepemimpinan Berliku Terjal dan Derasnya Over Kontrol Sosial Arus Bawah

Oleh : Sutriachol Haris, L.C.

Kabarnusa24.com,– Good governance atau tata kelola Pemerintahan yang baik menjurus satu konsep pada manajemen Pembangunan antara Penyelenggaran dan Pelayaan Negara terhadap Publik di era Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masih banyak diantara sesama para Pembantu Presiden yang tak solid.

Para Pemimpin K/L banyak yang belum sepenuhnya bertanggung jawab walau disisi lain Presiden melakukan efisiensi besar – besaran tapi begitu dapat ditangkap anggarannya tak efektif berjalan terserap untuk seluas kesejahteraan karena tak semua Para Pembantu Presiden dapat bisa menangkap Visi dan Visibilitasnya abu – abu karena tak semua mampu mengeksekusi atau menangkap untuk dapat di implementasikan secara komprehensif.

Apalagi tentang tata kelola Pemerintahan yang bersih, akhir ini kita tahu terjadi manipulasi dan tidak bebas dari jama sosial bebas korupsi. Bahkan terjadi oleh Menterinya sendiri melakukan terang – terangan dengan dua anaknya ditaruh menjadi staf sebagai tangan kanannya sendiri, terang – terangan Nepostisme dipertontonkan di depan khalayak publik.
Kolusi pun Gratifikasi hingga Korupsi lebih besar terjadi sekarang dibanding Kepemimpinan Pemerintahan era SBY.

Masyarakat sipil atau (Cipil Society) deras kucuran kerannya mengkritisi demi larasnya pengawasan kebijakan dari berbagai macam sektor. Visi Pembangunan Negara yang secara umum SDM nya tak matang sehingga banyak yang tertekan dan dipaksa harus bisa menjalankan Visi besar Presiden tersebut.

Sektor swasta dalam menopang Pembanguan Program utama Presiden misalnya selaku terbatas penggerak ekonomi dan baru sejarah kali ini masyarakat kompak sharing invenstasi MBG dalam satu kata SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Di satu sisi Kepemimpinan Sudaryono yang diharapkan oleh Presiden Prabowo sejatinya untuk dapat lebih matang dalam konsen semata manata tata bukan seoalah seorang jadi Cindramata segala sisi dijama dalam bmberbagai macam bukan untuk di daur ulang sehingga ada kata SPBU yang keluar, Mulai Dari Nol Ya !? sehingga menjelma langkah ambisius bin semraut bukan dengan langkah hati dalam memimpin BGN ini malah ditambah gedebag – gedebug.

Dampak gedebag – gedebug atau grasak – grusuk jowone iki dapat diartikan negatif karena analoginya dianggap melampaui melebihi kecerdasan (AI)
Sehingga Program Prioritas beresiko eksistensial terhadap keselamatan SPPG/MBG itu sendiri. Jika sejatinya Hal tersebut keberadaan Pemimpin harus tenang lagi tertib menata dan mengatur dengan benar sepenuh sentuhan hati nurani dan tetap slow namun pasti.

Era Presiden SBY pada awal memimpin sehingga pada priode keduanya hanya Fajrul Rahman terhitung segelintir pengkritik dan di lingkungan Parlemen sangat aktif berjalan kontrol, misalnya Akbar Faisal (Hanura) dan Bambang Susatyo (Golkar), Fahri Hamzah (PKS) saat itu hal ini bagus.

Sekarang semua Anggota Parlemen lebih banyak diam. Semua seolah dengan diamnya mereka secara umum ingin terkesan adem tapi sesungguhnya keberadaan Senayan amat panas. Sehingga keberadaan masyarakat secara luas lebih pada gelisah untuk bisa tenang dan masih jauh dari kata Sejahtera. Disamping kerja sama politik di Senayan berjalan masing – masing, sekali muncul seolah kompak mereka membahas hanya sisi viral nya saja.

Dua tahun Prabowo yang dapat dan patut di Apresiasi adalah baru dapat menggeser dan tak lagi punya taring orang – orangnya Solo. Secara politis hal ini sesuatu yang wajar tapi sejatinya Presiden dapat singkronisasi bukan saja atas roda intruksi Kebijakan Pusat ke Daerah namun juga soliditas dan sinergitas Visi Presiden bisa dapat dijalankan semua Menterinya dengan baik dengan tidak gagal faham sehingga secara umum Aksi dari Visi yang baik itu malah buruk.

Penulis