DaerahFilosofi

Lakpesdam PCNU Indramayu Gandeng Mahasiswa Beri Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja

10
×

Lakpesdam PCNU Indramayu Gandeng Mahasiswa Beri Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja

Sebarkan artikel ini
Lakpesdam PCNU Indramayu Gandeng Mahasiswa Beri Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Indramayu, Ali Ma’nawi, mendorong remaja untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi, relasi, nilai, dan etika sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berdaya.

“Remaja harus memiliki keberanian untuk mengenali dirinya, memahami tubuhnya, serta membangun relasi yang sehat dengan lingkungan di sekitarnya. Edukasi ini penting agar mereka tidak hanya memahami persoalan kesehatan reproduksi, tetapi juga memiliki nilai, etika, dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam menentukan masa depannya,” ujar Almak, sapaan akrabnya.

Hal tersebut disampaikan dalam Talk Show Edukatif bertajuk “Kenali Tubuhmu, Kenali Dirimu: Ngobrol Sehat tentang Relasi dan Masa Depan” yang diselenggarakan Persatuan Mahasiswa Indramayu DKI Jakarta di Kantor Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat, pada Jumat (7/8/2026).

Almak menyampaikan bahwa saat ini Lakpesdam PCNU Indramayu melalui Program Inklusi, memiliki dua desa binaan di Kecamatan Cantigi dan dua desa di kecamatan Sindang yang menjadi ruang pendampingan untuk membentuk Forum Anak dan Pendidik Sebaya sebagai pelopor dan pelapor.

“Lakpesdam tidak hanya melakukan edukasi, tetapi juga hadir untuk mendampingi mereka yang mengalami kekerasan maupun anak-anak yang menghadapi persoalan akibat kehamilan di luar nikah. Mereka harus tahu bahwa ketika menghadapi persoalan, mereka tidak sendirian dan memiliki ruang untuk mendapatkan pendampingan. Berani bersuara dan jangan takut, karena meminta bantuan bukan berarti menunjukkan kelemahan,” jelas Almak.

Almak juga menekankan pentingnya remaja mengisi masa muda dengan kegiatan yang produktif dan terus mengembangkan keterampilan. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi lingkungan dan dunia yang semakin luas.

Dalam kesempatan tersebut, Sub Koordinator Perlindungan Hak Perempuan Bidang PHP & PKA Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KB-P3A) Kabupaten Indramayu, Eddy Kusmayadi, menjelaskan pentingnya memberikan pemahaman kepada remaja mengenai batasan tubuh, persetujuan atau consent, serta berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi, baik di lingkungan sekitar maupun ruang digital.

“Anak dan remaja perlu memahami bahwa tubuh mereka berharga dan memiliki batasan yang harus dihormati. Tidak boleh ada seorang pun yang memaksa, menyentuh, meminta sesuatu, atau melakukan tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Karena itu, mereka harus memahami bahwa mengatakan ‘tidak’ bukan sebuah kesalahan, melainkan bentuk keberanian untuk melindungi diri,” ujar Eddy.

Eddy juga menyoroti persoalan pernikahan pada usia anak khususnya dalam konteks kesehatan, kehamilan pada usia yang belum siap juga memiliki risiko terhadap keselamatan ibu dan bayi, sementara kondisi ekonomi keluarga dapat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anak dan risiko kematian karena alat reproduksi belum siap dan melahirkan generasi stunting karena faktor ekonomi berasal dari poin yang kamu berikan, bukan dari teks PPT yang terbaca.

“Persoalan ini tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi. Ketika sebuah pernikahan terjadi karena kehamilan yang tidak direncanakan, kita perlu melihat bagaimana kesiapan anak secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Jangan sampai persoalan yang satu kemudian melahirkan persoalan baru, seperti tidak terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan gizi anak. Karena itu, edukasi dan perlindungan sejak awal menjadi sangat penting,” jelas Eddy.

Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, Titing Mulyani, menekankan pentingnya memberikan ruang yang aman bagi remaja untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi, terutama ketika memasuki masa pubertas.

Menurutnya, rasa malu atau takut bertanya mengenai perubahan yang dialami tubuh merupakan hal yang kerap dirasakan remaja, sehingga mereka perlu diarahkan untuk mendapatkan informasi dari sumber yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Ketika remaja merasa malu atau takut untuk bertanya tentang pubertas, jangan kemudian mencari informasi secara sembarangan. Bertanyalah kepada orang yang tepat, seperti tenaga kesehatan, guru, orang tua, atau peer counselor yang memang memiliki pengetahuan dan dapat memberikan informasi yang benar. Pubertas adalah proses yang alami, sehingga tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan,” ujar Titing.

Titing menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan hormonal, fisik, psikologis, dan sosial.

“Remaja perlu memahami bahwa pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan proses yang berbeda. Pertumbuhan lebih mudah kita lihat secara fisik, misalnya perubahan ukuran tubuh. Sementara perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif, seperti semakin matangnya fungsi organ, kemampuan mental, keterampilan, dan perilaku menuju tingkat kedewasaan. Karena itu, remaja tidak hanya perlu memperhatikan perubahan tubuhnya, tetapi juga mempersiapkan mental dan kemampuan dirinya,” pungkas Titing.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin