Daerah

Tak Mau Anak Putus Sekolah Jadi Generasi Terpinggirkan, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa Buka Jalan hingga Perguruan Tinggi

11
×

Tak Mau Anak Putus Sekolah Jadi Generasi Terpinggirkan, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa Buka Jalan hingga Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini
Tak Mau Anak Putus Sekolah Jadi Generasi Terpinggirkan, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa Buka Jalan hingga Perguruan Tinggi
oplus_2

Tak Mau Anak Putus Sekolah Jadi Generasi Terpinggirkan, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa Buka Jalan hingga Perguruan Tinggi

LUMAJANG,kabarnusa24.com.Sabtu,8/8/2026— Putus sekolah bukan berarti putus masa depan. Prinsip itu menjadi pegangan PKBM Cahaya Kurnia Bangsa di Desa Banjarwaru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dalam membuka kembali akses pendidikan bagi masyarakat yang pernah terhenti dari bangku sekolah formal.

 

Melalui program pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA, lembaga tersebut berupaya memastikan peserta didik memperoleh hak pendidikan yang layak sekaligus memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Acara ini berlangsung di Warung Apung,Jalan Sukarno – Hatta, Sukodono.

 

Kepala PKBM Cahaya Kurnia Bangsa, Sri Chomsatun, S.Pd., M.M., menegaskan pendidikan kesetaraan tidak boleh dipandang sebelah mata dibandingkan pendidikan formal.

 

“Bagaimana caranya kalau kejar Paket A, B, dan C itu harus sama pendidikannya dengan sekolah formal. Jadi tidak ada perbedaan,” kata Sri.

 

Menurut Sri, tantangan terbesar pendidikan kesetaraan saat ini bukan sekadar menghasilkan lulusan yang mengantongi ijazah. Peserta didik juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi persaingan dunia pendidikan dan dunia kerja yang semakin kompetitif.

 

Karena itu, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa tidak berhenti pada proses pembelajaran. Lembaga tersebut juga membuka akses bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

 

Sri mengungkapkan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan STIH. Melalui kerja sama tersebut, lulusan PKBM mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi, tersedia pula peluang mendapatkan beasiswa.

 

“Lulusan dari kami bisa masuk ke perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Apalagi sekarang saya bekerja sama dengan STIA. Bagi mereka yang tidak mampu, mereka akan mendapatkan beasiswa dari STIA,” ujarnya.

 

Sekitar 190 Peserta Didik, 100 Ikuti Wisuda

 

Saat ini, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa memiliki sekitar 190 peserta didik dari jenjang Paket A, B, dan C. Namun, hanya sekitar 100 orang yang mengikuti prosesi wisuda.

 

Sebagian peserta didik lainnya tidak dapat menghadiri wisuda karena telah bekerja di luar kota, bahkan di luar Pulau Jawa.

 

Kondisi tersebut justru menjadi gambaran bahwa pendidikan kesetaraan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi jembatan bagi warga untuk kembali menata kehidupan.

 

Latar belakang peserta didik pun beragam. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang pernah putus sekolah, dan ada pula yang tidak dapat meneruskan pendidikan formal karena berbagai persoalan kehidupan.

 

“Latar belakang mereka macam-macam. Ada yang tidak mampu, faktor ekonomi, dan ada juga yang drop out sehingga tidak melanjutkan sekolah. Mereka kami tampung untuk memberikan pelayanan pendidikan,” ujar Sri.

 

Tak Pandang Usia dan Asal Daerah

 

Peserta didik PKBM Cahaya Kurnia Bangsa tidak hanya berasal dari Desa Banjarwaru. Mereka datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Lumajang.

 

Keragaman usia dan latar belakang tersebut membuat proses pembelajaran tidak bisa diseragamkan. Tenaga pendidik harus menyesuaikan metode pengajaran dengan kemampuan masing-masing peserta didik.

 

“Dalam suka duka itu pasti ada. Kami harus tetap tersenyum dan membina mereka. Ada yang belajarnya sudah agak tua, kami bimbing sesuai kemampuan mereka. Kecerdasan mereka kan tidak sama, sehingga cara mengajarnya juga harus disesuaikan,” kata Sri.

 

Bagi Sri, mengelola pendidikan kesetaraan membutuhkan kesabaran sekaligus komitmen. Sebab, sebagian peserta didik datang dengan pengalaman pendidikan yang tidak mulus.

 

Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk memberikan layanan pendidikan seadanya.

 

Pengabdian untuk Membuka Masa Depan

 

Sri menyebut motivasi utamanya mengelola PKBM adalah pengabdian kepada masyarakat. Ia ingin warga yang pernah kehilangan kesempatan bersekolah tetap mempunyai ruang untuk mendapatkan pendidikan.

 

“Motivasi saya adalah mengabdi kepada masyarakat untuk melayani masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan. Saya ingin memberikan pelayanan yang terbaik,” tuturnya.

 

Ia berharap lulusan PKBM Cahaya Kurnia Bangsa tidak hanya mendapatkan ijazah, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Setelah lulus dari kami, mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi dirinya. Dengan ijazah itu mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak,” katanya.

 

Di tengah masih adanya warga yang terpaksa meninggalkan pendidikan formal karena persoalan ekonomi dan berbagai keadaan lainnya, PKBM Cahaya Kurnia Bangsa mencoba menghadirkan satu pesan sederhana: **kesempatan untuk belajar tidak seharusnya berhenti hanya karena seseorang pernah putus sekolah.( D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin