DaerahGaya Hidup

Tarno, Penyandang Tuna Wicara yang Setia Menarik Perahu Tambangan Jatisawit di Sungai Cimanuk Selama 20 Tahun

5
×

Tarno, Penyandang Tuna Wicara yang Setia Menarik Perahu Tambangan Jatisawit di Sungai Cimanuk Selama 20 Tahun

Sebarkan artikel ini
Tarno, Penyandang Tuna Wicara yang Setia Menarik Perahu Tambangan Jatisawit di Sungai Cimanuk Selama 20 Tahun

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Di tengah perkembangan zaman dan semakin modernnya sarana transportasi, perahu tambangan tradisional masih menjadi andalan warga untuk menyeberangi Sungai Cimanuk, Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Di balik perahu kayu sederhana tersebut, ada sosok Tarno (70), warga yang selama hampir dua dekade setia menjadi penarik perahu tambangan.

Yang membuat kisah perjuangannya semakin menyentuh, Tarno merupakan penyandang tuna wicara. Namun, keterbatasan tersebut tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti bekerja dan mencari nafkah.

Setiap hari, sejak pagi hingga malam, Tarno melayani warga yang hendak menyeberang bersama sepeda motor. Dengan mengandalkan kekuatan kedua tangannya, ia menarik perahu menggunakan tambang baja yang membentang di atas Sungai Cimanuk.

Bagi warga, perahu tambangan tersebut bukan sekadar alat transportasi tradisional. Keberadaannya menjadi akses penting karena mampu memangkas waktu perjalanan dibandingkan harus memutar melalui jalur darat.

Tarifnya pun relatif murah, hanya Rp2.000 untuk sekali menyeberang.

“Pak Tarno memang pekerja keras. Tenaganya seperti tidak habis-habis, padahal usianya sudah 70-an tahun,” ujar Asep, rekan sesama penarik perahu.

Kegigihan Tarno terlihat dari caranya melayani penumpang. Meski hanya satu orang yang menunggu di seberang, ia tetap bersedia menyeberangkan penumpang. Bahkan, setelah mengantar, Tarno akan kembali lagi untuk menjemput warga yang masih menunggu.

Karena merupakan penyandang tuna wicara, Tarno berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Bagi warga yang sudah sering menggunakan jasanya, gerakan tangan dan bahasa isyarat Tarno sudah cukup mudah dipahami.

Selama hampir 20 tahun, sosok Tarno telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tepian Sungai Cimanuk.

Setiap pagi ia datang, menarik tambang, mengantarkan warga menyeberang, kemudian kembali lagi menjalankan rutinitas yang sama.

Tidak banyak orang mengenalnya. Namun bagi warga yang setiap hari membutuhkan jasa perahu tambangan, Tarno merupakan sosok yang selalu dapat diandalkan.

Zaman boleh berubah. Transportasi boleh semakin modern. Namun selama perahu tambangan tersebut masih dibutuhkan masyarakat, Tarno akan tetap setia menarik tambangnya.

Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Tarno menunjukkan bahwa usia dan kondisi fisik bukan alasan untuk menyerah dalam mencari nafkah.

Peluh yang jatuh di tengah derasnya Sungai Cimanuk menjadi saksi keteguhan seorang lelaki yang memilih terus bekerja, demi kehidupan dan keluarga.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin