DaerahSeni Budaya

Dari Panggung Hajatan Menembus Dunia, Tarling Pantura Kini Mendunia

7
×

Dari Panggung Hajatan Menembus Dunia, Tarling Pantura Kini Mendunia

Sebarkan artikel ini
Dari Panggung Hajatan Menembus Dunia, Tarling Pantura Kini Mendunia

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Dulu, istilah go international kerap dianggap sebagai pencapaian tertinggi bagi seorang seniman. Seolah kesuksesan baru lengkap ketika karya mampu menembus panggung-panggung besar di luar negeri.

Namun, anggapan itu perlahan berubah. Dari pesisir utara Jawa, khususnya Cirebon dan Indramayu, musik Tarling Pantura justru menunjukkan bahwa budaya lokal mampu melangkah ke panggung internasional tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Bagi para penyanyi dan pemusik Tarling Pantura, tampil di luar negeri bukan lagi sekadar impian. Suara suling, petikan gitar, tabuhan kendang, serta cengkok khas Dermayon yang biasanya terdengar dari panggung hajatan di Anjatan, Indramayu, hingga Gegesik, kini juga menggema di berbagai kota seperti Taipei, Tokyo, Seoul, dan Hong Kong.

Menariknya, perjalanan Tarling Pantura menuju mancanegara tidak semata-mata lahir dari dukungan sponsor korporasi besar maupun festival musik berskala internasional. Ada kekuatan lain yang justru menjadi penggeraknya, yakni ikatan emosional dan gotong royong masyarakat, terutama para Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Bagi para perantau di negeri orang, kehadiran penyanyi Tarling favorit bukan sekadar hiburan. Musik tersebut menjadi pengobat rindu terhadap kampung halaman. Setiap petikan gitar, tabuhan kendang, suara suling, dan syair berbahasa Cirebon-Indramayu menghadirkan kembali suasana rumah, keluarga, serta kehidupan di tanah kelahiran.

Tak heran, panggung Tarling di luar negeri kerap dipenuhi penonton. Lagu-lagu yang dibawakan pun mampu mengajak para perantau bernyanyi bersama, seolah untuk sesaat mereka kembali berada di tengah masyarakat kampung halaman.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa kebudayaan lokal tidak harus menghilangkan identitasnya untuk dapat diterima dunia.

Para seniman Tarling Pantura tetap membawa karakter musiknya sendiri. Mereka tidak harus mengubah warna musik menjadi kebarat-baratan atau mengikuti seluruh tren musik global. Sebaliknya, kekuatan mereka justru terletak pada kejujuran dalam menyuarakan kehidupan masyarakat, kisah sehari-hari, cinta, kerinduan, serta cerita yang dekat dengan kehidupan orang Pantura.

Dari panggung hajatan hingga panggung diaspora, Tarling membuktikan bahwa musik daerah memiliki daya hidup yang luar biasa.

Batas negara ternyata bukan penghalang bagi sebuah karya ketika di dalamnya terdapat identitas, emosi, dan cerita yang mampu menyentuh hati pendengarnya.

Tarling Pantura kini tidak hanya menjadi suara dari pesisir utara Jawa. Ia telah berubah menjadi jembatan budaya yang menghubungkan tanah kelahiran dengan jutaan perantau Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Dan mungkin, inilah makna go international yang sesungguhnya: bukan meninggalkan akar untuk menjadi global, tetapi membawa akar tersebut tumbuh dan dikenal hingga ke berbagai belahan dunia.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin