Oleh : Sutriachol Haris, L.C.
TANGGERANG,– Konteks kenegaraan dalam memahami bangun karta gemah ripah loh jinawi adalah purna dalam mengimplementasikan K/L dalam takaran baik pembelanjaan maupun penerimaan negara setara kemampuan dan standar potensi dari sisi hasil alam baik pertambagannya, perdagangan dan ESDM atau seterusnya. Selain mengandalkan penerimaan negara melalui pajak dan PNBB.
Jika menghitung akan sasaran grand design semua pengelolan negara dari hasil bumi NKRI contoh soal masalah politik pertambangan dan ekonomi pertambangan jika dikelola saja dengan kemandirian penuh kedaulatan usaha demi kesemakmuran kesejahteraan seluas – luasnya untuk rakyat.
Sejatinya bangsa ini jauh lebih maju apalagi hanya bila dibandingkan dengan negara seperti singapura dan negara tetangga lainnya. Persoalannya acapkali usaha negara yang dikelola pemerintah baik di level BUMN/BUMD nya pengelolan usaha pertambangan masih banyak tak berdasar business to business. Apalagi hal ini jika dijalankan sesuai amanah sebagaimana dalam pasal 33 UUD 1945.
Negara seyogyanya untuk belanja dan program prioritas kedepan dapat mengembalikan dan menjaga kedaulatan pertambangan setelah program ketahanan pangan dijalankan. Demi cerminan sebuah negara berdaulat. Sehingga negara dan bangsa makmur ini puji syukur terus menata pembenahan demi pembenahan selain menata tata efisiensi keuangan negara itu sendiri.
Kembali kepada soal rakyat dan masyarakat juga sejatinya dapat mensyukuri bukan memungkiri atas kinerja dan program baik pemerintah dahulu hingga hari ini demi kebermaslahatan yang berkelanjutan bagi rakyat dimana telah hadir misalnya seperti program PKH, Bansos, LPDP, MBG. dan seterusnya. Sebagai masyarakat langkah sebahagian terhadap konsep negara masih sedikit yang berterimakasih atau rasa bersyukur atas hadirnya itu.
Sedikit dari hamba tuhan yang bersyukur, begitu pula sedikit jadi bangsa yang bersyukur. Seringkali bangsa lalai atas kemandirian segala aspek ketahanan dan banyak pula contoh masih ada K/L yang menghamburkan anggaran. Alhamdulillah dengan wujud seperti sekarang langkah efisiensi patut di apresiasi. Sebagai bangsa dan masyarakat ayo mari kita bersyukur.
Konsep syukur dalam konteks negara ialah eksistensi rasa syukur atau terima kasih atas persatuan yang lebih utamanya setelah kita dapat menerima sebagai pewaris dari negara yang telah merdeka, serta kekayaan alam dan kejayaannya yang makmur ini semoga dapat diwujudkan pertama melalui langkah kebajikan pemerintah dan kebijakan yang adil. Ingat bajik, bijak dan adil adalah nama dari asma Allah. Mugi pemerintah dan rakyat demikian itu semua dapat mensifati nya.
Bentuk syukur oleh masyarakat yakni selain yang pertama jaga persatuan dan kesatuan, mentaati aturan juga menghargai semua program baik pemerintah , serta yang tak kalah pentingnya adalah semua kita, dari rumah kita, ke rumah kita, dengan merawat menjaga kebersihan lebih bersih wajib clink atas lingkungan masing – masing yang ada. Selain ia merupakan hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air bagian ruh dan aspek dari keimanan seseorang.
Bentuk syukur oleh pemerintah adalah yang pertama yakni pelayanan yang jujur, laju mewujudkan keadilan bagi semua masyarakatnya adil sosial, menjaga hak atas orang tanpa ada pandang bulu dalam hukum tak tumpul ke atas.
Bangsa yang bersyukur negaranya makmur, rakyat yang bersyukur kehidupannya sejahtera. Wahai jika kalian rakyat dan duhai bila kalian pemerintah sama – sama bersyukur maka niscaya Allah berdiri sendiri tanpa bantuan malaikatnya menjanjikan dan memberikan tambahan kesemakmuran dengan hak prerogatifNya langsung dengan bonus paket jumbo penuh komprehensif.
Sungguh maha besar Dialah Allah datang dengan siapapun yang bersyukur akan menjaga sebuah negara itu seperti Dia menjaga Al quran dari hurup ke hurup nya bentuk hadiah bagi negara yang Dia berkahi kehendaki. Baldatun thayibatun wa rabun ghafur.
(Red)






