Kabarnusa24.com
Bandung, 16 Agustus 2026 || Semangat melestarikan seni dan budaya Sunda terus digaungkan berbagai paguyuban budaya di Jawa Barat. Salah satunya Paguyuban Sunda Galuh yang turut hadir dalam acara Gebyar Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang digelar Paguyuban Cepot Motah Indonesia, Minggu, 16 Agustus 2026.

Ketua Paguyuban Sunda Galuh, H. Gan-Gan Nawawi Yibjapraja, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan para pelaku dan penggiat budaya dari berbagai paguyuban di Jawa Barat tersebut.
Menurutnya, kegiatan seni budaya seperti ini bukan sekadar menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarpaguyuban serta membangun kebersamaan dalam menjaga warisan budaya Sunda.
“Alhamdulillah, kami bisa hadir dan bersilaturahmi dengan para ketua umum paguyuban yang ada di tanah Pasundan. Kegiatan seperti ini sangat positif karena menjadi ruang untuk menyatukan para pelaku budaya dalam menjaga dan melestarikan budaya Sunda,” ujar H. Gan-Gan.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Sunda merupakan tanggung jawab bersama, khususnya bagi masyarakat Sunda sendiri. Menurutnya, generasi saat ini harus memiliki kepedulian untuk mengenalkan dan mempertahankan seni serta tradisi Sunda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kalau bukan kita, urang Sunda, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya Sunda? Karena itu, kita harus terus bergerak, berkarya, dan memberikan ruang bagi budaya Sunda untuk tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.
H. Gan-Gan juga menyampaikan apresiasi kepada Paguyuban Cepot Motah Indonesia yang telah menggelar Gebyar Pagelaran Seni Budaya Nusantara. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda yang terus berlanjut dan semakin memperkuat hubungan antarpaguyuban budaya di Jawa Barat.
Selain menghadiri kegiatan tersebut, Paguyuban Sunda Galuh juga tengah mempersiapkan agenda budaya yang rencananya akan dilaksanakan pada November 2026 di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Kegiatan tersebut berupa ngaruat lembur, sebuah tradisi masyarakat Sunda yang menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya, kebersamaan, serta rasa syukur masyarakat.
“Insya Allah pada bulan November nanti, Paguyuban Sunda Galuh akan melaksanakan ngaruat lembur di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Kami ingin kembali menghidupkan budaya Sunda di tengah masyarakat melalui kegiatan yang melibatkan warga dan para pelaku budaya,” ungkapnya.
Menurut H. Gan-Gan, kegiatan ngaruat lembur tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian perjalanan Paguyuban Sunda Galuh yang pada tahun 2026 memasuki usia 10 tahun.
Saat ini, Paguyuban Sunda Galuh memiliki sekitar 500 anggota yang tersebar dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kebudayaan.
“Insya Allah sekaligus dalam rangka 10 tahun Paguyuban Sunda Galuh. Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai bentuk rasa syukur dan penguatan kembali semangat untuk melestarikan budaya Sunda,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mau terlibat dalam kegiatan seni dan budaya. Dengan demikian, tradisi dan nilai-nilai budaya Sunda tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
“Budaya Sunda harus terus kita rawat, kita kenalkan kepada generasi muda, dan kita kembangkan bersama. Silaturahmi antarpaguyuban seperti ini menjadi salah satu kekuatan untuk menjaga budaya Sunda tetap lestari,” pungkas H. Gan-Gan.
(Jaka)







