Daerah

Maulid Nabi dan Kemerdekaan Jadi Momentum Memperkuat Persatuan, Muslimat NU Lumajang Teguhkan Komitmen Kebangsaan

8
×

Maulid Nabi dan Kemerdekaan Jadi Momentum Memperkuat Persatuan, Muslimat NU Lumajang Teguhkan Komitmen Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Maulid Nabi dan Kemerdekaan Jadi Momentum Memperkuat Persatuan, Muslimat NU Lumajang Teguhkan Komitmen Kebangsaan
oplus_2

Maulid Nabi dan Kemerdekaan Jadi Momentum Memperkuat Persatuan, Muslimat NU Lumajang Teguhkan Komitmen Kebangsaan

 

LUMAJANG, kabarnusa 24.com.Senin,17/8/2026— Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai memiliki pesan penting yang saling melengkapi, yakni tentang kelahiran, persatuan, serta komitmen menjaga kehidupan kebangsaan.

 

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Jagong Kebangsaan bersama PAC Muslimat NU”- Kabupaten Lumajang yang mengusung tema “Meneguhkan Komitmen Kebangsaan demi Mewujudkan Sinergi dan Inklusifitas Organisasi”. Kegiatan berlangsung di Desa Rogotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang.

 

Dalam forum tersebut, Dr. Faiqotur Mala,S.SI.MA ,Hum., menekankan bahwa momentum peringatan Maulid Nabi dan kemerdekaan Indonesia pada tahun ini memiliki makna yang sangat kuat.

 

Menurutnya, kedua momentum tersebut sama-sama berbicara tentang kelahiran. Maulid Nabi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sedangkan Hari Kemerdekaan menjadi momentum memperingati lahirnyav Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

 

“Dua-duanya sama-sama memperingati kelahiran. Yang satu memperingati kelahiran Kanjeng Nabi, yang satu memperingati kelahiran atau kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

 

Naimah menegaskan, kedua peringatan tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi untuk memperkuat persatuan bangsa.

 

Ia kemudian mengaitkan semangat kebangsaan tersebut dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam membangun kehidupan masyarakat yang beragam.

 

Menurut dia, sejak hijrah ke Madinah, Nabi telah memberikan contoh bagaimana membangun persaudaraan dan menyatukan kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Kaum Muhajirin dan Ansar, misalnya, dipersaudarakan untuk membangun kehidupan sosial yang kokoh.

 

“Ini menunjukkan bahwa Nabi saja, sekitar 1.500 tahunb yang lalu, sudah mencontohkan kepada kita bagaimana menjaga persatuan,” katanya.

 

Empat Prinsip NU dan Tantangan Kehidupan Kebangsaan

 

Dalam konteks kehidupan organisasi dan kebangsaan, Faiqotur mengingatkan kembali prinsip-prinsip yang menjadi karakter penting dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), yakni tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.

 

Ia menjelaskan, tawasuth berarti mengambil posisi tengah atau moderat. Prinsip tersebut mengajarkan agar seseorang tidak terjebak pada sikap ekstrem, baik ke kanan maupun ke kiri.

 

“Tawasuth berarti kita berada di tengah-tengah. Artinya, kita tidak boleh terlalu ke kiri dan juga tidak terlalu ke kanan,” jelasnya.

 

Menurut Faiqotur, prinsip moderasi tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan ajaran agama dan berinteraksi dengan masyarakat.

 

Sementara itu, tawazun dimaknai sebagai keseimbangan. Ia mengingatkan agar kehidupan spiritual tidak membuat seseorang mengabaikan kewajiban sosial dan keluarga.

 

“Hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama manusia harus seimbang,” katanya.

 

Ia memberikan gambaran sederhana. Seseorang tidak cukup hanya aktif mengikuti pengajian, zikir, atau kegiatan keagamaan apabila kewajiban terhadap keluarga justru ditinggalkan.

 

“Ngaji tidak salah, pertemuan tidak salah. Tetapi kalau ujung-ujungnya di rumah sering bertengkar dengan keluarga, berarti kita belum tawazun,” ujarnya.

 

Menurutnya, keseimbangan tersebut harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga. Hubungan hablum minallah dan hablum minannas harus berjalan beriringan.

 

Prinsip berikutnya adalah i’tidal, yang berarti bersikap adil. Naimah mengingatkan agar seseorang tidak membangun relasi berdasarkan kepentingan, status sosial, kekayaan, maupun keuntungan pribadi.

 

“Dalam berorganisasi ataupun memilih teman, kita tidak boleh pilih-pilih hanya karena seseorang kaya atau karena ada kepentingan tertentu,” tegasnya.

 

Ia juga mendorong agar nilai-nilai seperti musyawarah, tabayyun, dan rahmah semakin diperkuat dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat.

 

Bagi Faiqotur nilai-nilai tersebut relevan untuk menjawab tantangan kehidupan kebangsaan saat ini. Persatuan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan cara masyarakat berinteraksi.

 

Perempuan Punya Peran Strategis Menjaga Indonesia

 

Sementara itu, Dr.Naimah ,SH.I..MH.,menyoroti posisi strategis perempuan, khususnya ibu, dalam membangun generasi dan menanamkan kecintaan terhadap bangsa.

 

Menurutnya, pendidikan terhadap generasi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Karena itu, perempuan memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak dini.

 

“Pertama bagi sebuah generasi, yang harus dididik adalah perempuan,” katanya.

 

Ia menilai, pengetahuan agama juga menjadi salah satu fondasi penting. Menurutnya, aktivitas keagamaan harus berjalan beriringan dengan praktik mencintai dan menjaga lingkungan serta negara.

 

Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, misalnya, merupakan bentuk sederhana dari kecintaan terhadap tanah air.

 

“Kalau lingkungan kita bersih, Indonesia juga akan terlihat bersih. Kalau Indonesia dipotret sebagai negara yang kotor, citra Indonesia juga akan ikut buruk,” ujarnya.

 

Ia juga menyebut pemasangan dan penghormatan terhadap bendera Merah Putih sebagai salah satu bentuk sederhana kecintaan terhadap Indonesia.

 

Tradisi masyarakat seperti “bari’an atau selamatan malam 17 Agustus”, doa bersama, berkumpul, hingga menyanyikan lagu kebangsaan juga dinilai dapat menjadi sarana menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa.

 

Namun, Naimah mengingatkan bahwa mencintai Indonesia tidak berhenti pada perasaan. Setelah mencintai, masyarakat harus mampu menjaga.

 

“Setelah mencintai, maka harus kita jaga,” katanya.

 

Menjaga Indonesia, menurut dia, tidak selalu berarti melakukan tindakan besar. Perempuan dapat mengambil peran melalui hal-hal sederhana, mulai dari menjaga lisan, menjaga hati, menjaga perilaku, hingga menjaga pikiran.

 

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah melontarkan hujatan atau kata-kata buruk terhadap negara sendiri.

 

“Jangan terlalu banyak berkata-kata buruk terhadap negara kita,” ujarnya.

 

Naimah hjuga menekankan pentingnya menunjukkan karakter masyarakat Indonesia yang ramah, baik, dan santun. Sebab, perilaku warga negara ikut membentuk citra Indonesia di mata masyarakat luas.

 

“Jadilah seorang ibu, seorang perempuan yang menjadi warga negara yang baik,” katanya.

 

Menurutnya, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan cara-cara konvensional.

 

“Menjaga NKRI bukan harus membawa senjata. Tetapi bisa dilakukan dengan lisan, perbuatan, hati dan pikiran, serta dengan doa,” tegasnya.

 

Dari Muslimat NU, Kebangsaan Dimulai dari Keluarga

 

Forum Jagong Kebangsaan tersebut pada akhirnya menegaskan satu pesan utama: persatuan Indonesia tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan institusi negara, tetapi juga melalui keluarga, organisasi kemasyarakatan, dan perilaku sehari-hari warga negara.

 

Nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, sebagaimana disampaikan para narasumber, bukan dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang moderat, seimbang, adil, toleran, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa.

 

Momentum Maulid Nabi dan kemerdekaan pun menjadi ruang refleksi bahwa semangat persatuan bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat.

 

Bagi Muslimat NU, komitmen kebangsaan itu dapat dimulai dari hal sederhana: **mendidik keluarga, menjaga lisan, merawat lingkungan, menghormati perbedaan, memperkuat persaudaraan, serta menjaga Indonesia melalui tindakan nyata.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin