Sinergi Sensus Ekonomi 2026 Dorong Pertumbuhan Lumajang, Kemiskinan Turun ke 8,6 Persen
LUMAJANG,kabarnusa24.com.Kamis,6/8/2926— Sinergi antara pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan angka kemiskinan di Kabupaten Lumajang. Di tengah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Kabupaten Lumajang mencatat sejumlah capaian positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam lima tahun terakhir hingga penurunan angka kemiskinan menjadi 8,6 persen.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang, Mochamad Sonhaji, B.Sc., M.Sc., dalam Focus Group Discussion (FGD) Kampanye Sinergi Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 bersama Komisi X DPR RI yang digelar di Aston Inn Lumajang, Kamis.
Menurut Sonhaji, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026. Ia menegaskan, peran petugas lapangan, pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, hingga masyarakat sangat menentukan kualitas data ekonomi yang akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan.
“Alhamdulillah, berkat sinergi yang terjalin dengan baik bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang dan seluruh OPD, angka kemiskinan di Lumajang terus mengalami penurunan hingga mencapai 8,6 persen pada tahun 2026. Ini merupakan capaian yang sangat baik dan harus terus dipertahankan,” ujar Sonhaji.
Ia optimistis, kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat akan mempercepat upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Lumajang.
Selain penurunan angka kemiskinan, Lumajang juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar **5,35 persen pada tahun 2025**, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Meski angka pertumbuhan ekonomi tahun 2026 masih dalam proses penghitungan, capaian tahun sebelumnya menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah.
Sonhaji menjelaskan, sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Lumajang dengan kontribusi sekitar **32 persen**, disusul industri pengolahan atau manufaktur sebesar **24 persen**, serta sektor perdagangan sekitar **14 persen**.
“Pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Lumajang. Karena itu produktivitas komoditas unggulan seperti padi, jagung, tebu, kelapa, hingga pisang harus terus dijaga agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi musim yang baik sepanjang tahun 2025 turut mendorong peningkatan produksi pertanian sehingga memberikan kontribusi besar terhadap capaian pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski demikian, Sonhaji mengingatkan adanya tantangan serius berupa semakin berkurangnya luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah daerah agar keberlanjutan sektor pertanian tetap terjaga.
“Kontribusi pertanian memang masih sangat besar, tetapi setiap tahun cenderung menurun karena adanya alih fungsi lahan. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama agar sektor pertanian tetap menjadi kekuatan utama ekonomi Lumajang di masa depan,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, BPS juga akan memotret perubahan struktur ekonomi dibandingkan satu dekade sebelumnya. Hasil sensus diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran, sekaligus menggambarkan arah transformasi ekonomi Kabupaten Lumajang.
Di sisi lain, Sonhaji berharap pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dapat diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka di Lumajang terus menunjukkan tren penurunan seiring membaiknya kondisi ekonomi dan menurunnya angka kemiskinan.
“Harapan kami, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, menurunkan pengangguran, mengurangi kemiskinan, dan memberikan manfaat nyata hingga ke lapisan masyarakat paling bawah,” tutup Sonhaji.(D.S)







