Bupati Lumajang Tegas: Beda Pendapat Boleh, Hoaks dan Anarkisme Jangan
LUMAJANG, kabarnusa 24.com.Kamis,13/8/2026— Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya potensi perpecahan akibat hoaks, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengingatkan mahasiswa dan generasi muda agar tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk melakukan tindakan anarkis.
Menurut Indah, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut disertai penyebaran informasi palsu, provokasi, atau tindakan yang mengganggu persatuan dan ketertiban masyarakat.
Pesan itu disampaikan Indah dalam kegiatan wawasan kebangsaan yang berlangsung di BKPSDM Kabupaten Lumajang, Jalan Ahmad Yani . Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda serta aliansi mahasiswa.
“Beda pendapat itu biasa. Yang tidak boleh adalah hoaks dan anarkisme. Aspirasi harus disalurkan dengan baik, didengarkan, kemudian diberikan solusi,” ujar Indah.
Ia menekankan pentingnya generasi muda memahami dan mengamalkan empat pilar kebangsaan, yakni “Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan “Bhinneka Tunggal Ika”
Bagi Indah, pemahaman tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Media sosial dapat menjadi sarana membangun, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk provokasi apabila digunakan tanpa kehati-hatian.
Karena itu, ia meminta masyarakat membiasakan diri melakukan “tabayyun” sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.
“Sekarang zaman teknologi. Banyak hal yang bisa memengaruhi cara pandang kita. “Tabayyun” itu penting. Kita harus bijak dalam menggunakan teknologi,” katanya.
Pemuda Diminta Tak Sekadar Mengkritik
Indah juga mendorong mahasiswa dan pemuda tidak berhenti pada penyampaian kritik, tetapi mampu menghadirkan gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia bahkan membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam berbagai program pemerintah daerah.
“Saya senang jika pemuda ikut memberikan kontribusi dalam program pemerintah. Pemuda harus memberikan inovasi agar dapat memberikan kemaslahatan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi. Namun, aspirasi akan jauh lebih produktif apabila disampaikan melalui ruang dialog dan komunikasi yang sehat.
Polri: Persatuan Jangan Sampai Terkoyak
Sementara itu, Kapolres Lumajang AKBP Riki Yudari menegaskan bahwa Polri terus memperkuat perannya sebagai perekat dan pemersatu bangsa.
Menurut Riki, menjaga persatuan bukan hanya tugas aparat keamanan. Pemerintah, mahasiswa, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat harus mengambil bagian dalam menjaga kondusivitas daerah.
“Polri hadir di tengah masyarakat sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Kita bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Riki.
Ia mengingatkan bahwa dinamika keamanan global, termasuk berbagai konflik yang terjadi di Timur Tengah, menunjukkan betapa pentingnya menjaga stabilitas dan persatuan di dalam negeri.
Polri, kata dia, juga memiliki instrumen untuk menangani berbagai ancaman terhadap keamanan nasional, termasuk melalui “Densus 88” dalam penanganan terorisme.
Di tingkat masyarakat, Riki meminta warga tidak sembarangan menyebarkan informasi kriminal hanya demi menjadi viral. Informasi mengenai kasus pencurian maupun persoalan lainnya sebaiknya disampaikan melalui jalur yang tepat agar tidak menimbulkan keresahan.
“Polri sebagai penjaga keamanan hadir di tengah masyarakat. Kolaborasi mahasiswa, Forkopimda dan tokoh masyarakat sangat penting untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.
TNI: Bangsa Harus Terus Dirawat
Kasdim 0821 Lumajang Tanuri menambahkan bahwa Kabupaten Lumajang sejauh ini berada dalam kondisi kondusif. Kondisi tersebut, menurut dia, merupakan modal penting yang harus dijaga bersama.
Tanuri mengibaratkan bangsa Indonesia seperti makhluk hidup yang membutuhkan perawatan. Jika tidak dirawat, persatuan dapat melemah dan pada akhirnya membuka ruang bagi perpecahan.
“Bangsa ini seperti makhluk hidup. Kalau tidak dirawat, bisa hancur. Tetapi kalau kita rawat, akan tercipta sesuatu yang baik,” katanya.
Ia menyoroti ancaman baru terhadap persatuan yang kini dapat masuk melalui telepon genggam dan media sosial. Informasi yang belum terverifikasi dapat dengan cepat menyebar dan memicu konflik di tengah masyarakat.
“Sekarang kita mudah diadu domba lewat HP. Karena itu, persatuan dan kesatuan harus kita jaga,” ujar Tanuri.
Ia juga mengajak masyarakat semakin dewasa menghadapi dinamika politik global. Memasuki usia **81 tahun kemerdekaan Indonesia**, bangsa ini dinilai harus semakin matang dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Usia bangsa kita sudah memasuki 81 tahun. Kita harus bijak dan sudah dewasa,” katanya.
Forum wawasan kebangsaan tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi ruang penyampaian pesan pemerintah dan aparat keamanan. Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia bukan hanya pekerjaan aparat, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
**Di tengah derasnya arus informasi, persatuan tidak cukup hanya dijaga dengan slogan. Ia membutuhkan kedewasaan dalam berbeda pendapat, ketelitian sebelum menyebarkan informasi, serta keberanian menyampaikan aspirasi tanpa kehilangan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.(D.S)





